Minggu, 15 Mei 2016

*4 RUMUS CLOSING :*

*4  RUMUS CLOSING :*

*1. BUAT TAHU : 25%*
Infokan dan promosikan bisnismu ke sebanyak2nya orang, semakin banyak yang tahu, maka semakin banyak yang akan gabung, apalagi jika tertarget, tingkat closing di level ini cukup rendah karena orang baru tahu saja, kalaupun closing itupun mungkin orang tersebut pas butuh pas baca info dari kamu

*2. BUAT BUTUH : 50%*
Anda harus bisa menambahkan info dan mengedukasi bisnis anda secara detail ke konsumen agar membuat mereka yang tadinya cuma tahu menjadi benar benar butuh

*3. BUAT MINAT : 75%*
Orang yang tahu dan butuh bisnis anda belum tentu mereka minat utk beli melalui Anda, karena orang beli produk itu :

20% karena perusahaannya
20% karena produknya
60% karena penjualnya

Di level ini anda harus bisa menjelaskan, kenapa orang tersebut harus beli ke anda, tidak ke yang lain, jika berhasil maka tingkat closing di level ini semakin tinggi

*4. BUAT SOLUSI : 100%*
Orang yang sudah tahu, sudah butuh dan sudah minat belum tentu bisa closing... jika mereka punya masalah spt belum tersedianya dananya atau tidak bawa uang cash, di level ini bisnis anda harus bisa memberikan beberapa SOLUSI dan kemudahan bagi mereka, spt buat sistem cicilan tetap, sistem angsuran, sistem autodebet, sistem COD, dan lain lain, jika bisnis anda sudah bisa menjawab permasalahannya maka insya Allah tidak ada alasan lagi bagi mereka yang sudah tahu, sudah butuh, sudah minat, sudah dapat solusi utk tidak membeli produk anda..

*Semoga bermanfaat*
*Salam Sukses Bisnis*

*SEMANGAT..✊*

Kamis, 12 Mei 2016

Cara Rasulullah Memahami Pelanggan

ara Rasulullah Memahami Pelanggan

Strategi promosi akan berjalan de ngan baik, jika seseorang mem punyai empat sifat sebagai pedagang. Dari Abu Umamah r.a., Rasulullah Saw bersabda : "Sesungguhnya seorang pedagang apabila mem punyai empat sifat pedagang, maka rezki nya akan lancar. Apabila ia membeli ba rang ia tidak mencela, apabila menjual ia tidak memujinya dengan berlebihan, apa bila menjual ia tidak menipu dan apabila menjual atau membeli tidak bersumpah" (Ashbahani).

Selain harus memiliki sifat tersebut, juga harus memahami pelanggannya. Rasulullah s.a.w. lebih menekankan pada hubungan dengan pelanggan selain sifat murah hati, mengutamakan keberkahan, ber penampilan menawan adalah mema hami pelanggan, Nabi Muhammad s.a.w. sangat memahami pelanggannya.

Ketika ratusan utusan datang pada Nabi setelah kemenangan kota Mekah, seorang diantaranya Abdul Qais, datang menemui Nabi. Selanjutnya, meminta agar mereka memanggil dan membe rita hukan pemimpin mereka, yaitu Al-Ashajj. Ketika menghadap, Nabi pun mengajukan bermacam-macam pertanyaan, tentang penduduk berbagai kota dan urusanurusan mereka. Secara khusus Nabi juga menyebutkan nama-nama Sofa, Musyaq qar, Hijar dan beberapa kota lainnya.

Pemimpin mereka Al-Ashajj, sangat terkesan dengan pengetahuan luas yang dimiliki Nabi tentang negerinya sehingga ia mengatakan, "Ayah dan ibuku akan berkorban demi Anda, karena Anda tahu banyak tentang negeriku dibanding aku sendiri dan mengetahui nama-nama lebih banyak kota di negeri kami daripada yang kami ketahui." Bahkan Nabi mengetahui ke biasaan orang Bahrain, cara hidup penduduk Bahrain, cara mereka minum dan cara mereka makan.

Setelah memahami pelanggannya, Nabi Muhammad Saw memberikan pelayanan hebat kepada pelanggannya. Djabir r.a. berkata : Rasulullah saw, bersabda : "Allah merahmati kepada orang yang ringan jika menjual atau membeli dan jika menagih hutang." (Bukhari). Abu Qotadah r.a. berkata : Saya telah mendengar Ra sulul lah saw bersabda : Siapa yang ingin diselamatkan Allah dari kesukaran hari qiyamat harus memberi tempo pada orang yang masih belum dapat membayar hutang atau menguranginya (Muslim). (M. Suyanto/RoL)

NEGERI ‘TUKANG JAHIT’

NEGERI ‘TUKANG JAHIT’

Lebih baik mana:
Buatan Indonesia, Merek milik asing.
Buatan Luar, Merek milik Indonesia.

Jika Anda menjawab ‘a’, tidak salah, karena dapat mengurangi pengangguran. Namun hal itu bersifat sementara. Saat ada ‘tukang jahit’ di negara lain yang lebih murah dengan kualitas yang serupa, maka pemilik merek punya kuasa untuk memindahkan produksinya.

Hal itu sudah sering terjadi di Indonesia. Selain pemicunya adalah upah buruh yang makin tinggi, ancaman demo tiap tahunnya, juga pungli disana-sini, memaksa investor asing untuk hengkang. Bagi saya, hal itu tak menjadi masalah. Toh cepat atau lambat, mereka juga akan hengkang, mencari yang termurah. Dasar kapitalis..!

Lagipula tak ada yang dibanggakan menjadi negara dengan buruh yang murah.

Beda cerita jika kita adalah pemilik MEREK. Kendali ada di tangan kita. Kemana telunjuk tertuju, disitu produksi terjadi. Mau produksi di dalam negeri pun, dengan bayaran lebih mahal, gak menjadi masalah. Gak percaya? Yuk periksa yang satu ini…

Perhatikan foto sepatu pertama (atas), berapa harga taksiran Anda?
Harga bandrolnya adalah  : Rp 1.599.000,-
Harga terendah, setelah diskon : Rp    801.700,-
Bulatkan saja 800 ribu rupiah.

Selanjutnya perhatikan foto sepatu kiri bawah, tanpa logo ‘centang’, berapa Anda mau membelinya? Masihkah 800 ribu? 600 ribu? 300 ribu? Belum tentu 300 ribu Anda mau membayarnya. Anggap saja Anda mau membeli 200 ribu, karena sudah tahu kualitasnya, meski tak ada ‘centang’ nya.

Jika Anda hanya mau membayar 200 ribu untuk sepasang sepatu tanpa logo, terus berapa harga logonya? 600 ribu? 3 kali dari harga produknya. Apa yang dibeli? Gengsi, jaminan kualitas, kepercayaan, atau diringkas dengan BRAND.

Mana lebih besar untungnya, PEMILIKI MEREK atau PENJAHIT?

Sayangnya, Indonesia masih menjadi ‘negeri tukang jahit’, sedikit yang melek BRANDING. Padahal, bicara soal kualitas, tak kalah bersaing dengan negara asia lainnya. Produksi Indonesia, sering dinikmati oleh ‘negara kelas satu’, seperti Singapura, Hongkong, dan negara-negara maju lainnya. Sebaliknya merek yang sama yang ada di Indonesia, malah berasal dari negara produsen kelas dua, seperti Cina, India, Vietnam.

Mungkin Anda familiar dengan merek-merek berikut ini:
ZARA; diproduksi PT Sritex tbk, Sukoharjo, Solo, Jawa Tengah.
IKEA; salah dua pabriknya di Semarang dan Solo.
BARBIE; diproduksi PT Mattel Indonesia, Cikarang, Jawa Barat.
NIKE, ADIDAS, NEW BALANCE, masih diproduksi di Tangerang dan Cianjur.

Bangga kah membaca merek-merek ternama tersebut diproduksi di Indonesia? Hal itu menjadi bukti bahwa kualitas produk buatan Indonesia tak diragukan lagi. Pertanyaannya, kenapa kita tak menggunakan produk buatan Indonesia? Merek lagi…!

Dari TUKANG JAHIT ke BRAND OWNER

Pernah dengar merek dibawah ini:
DOWA; tas rajut buatan Jogja.
PETER SAYS DENIM; jeans buatan Bandung.
NILUH DJLANTIK; sepatu buatan Bali, yang harganya selangit.
BAGTERIA; tas tangan unik untuk wanita.
SARAH BEEKMANS; kalung limbah tanduk sapi, Bali.

Mereka punya kesamaan, berhasil membangun Merek Indonesia mendunia. Lebih bangga mana, menggunakan Produk Indonesia (merek luar) atau Merek Indonesia?

Generasi tua fokus ke produksi, karena mereka ‘telaten’ dan memiliki jam terbang yang tinggi. Generasi muda fokus ke pemasaran, karena mereka dinamis dan kreatif. Apalagi era internet membuat dunia tanpa batas (borderless). Ciptakan brand-mu sendiri, kolaborasi dengan para produsen lokal.

Saya, SEBISA MUNGKIN menggunakan Merek Indonesia. Tentu tak mungkin semuanya saat ini. Apple Macbook masih belum tergantikan oleh Jeruk Gedebuk, Iphone belum tergantikan oleh Ti-phone. Jadi gak usah nyinyir saat saya keluarkan statement “Bangga Indonesia”. Sebaliknya, pemilik merek Indonesia gak usah ‘ngemis’ dengan membawa jargon “Karya Anak Bangsa”. Yang penting buktikan bahwa kualitas produk Anda pantas dikonsumsi.

Fase Ketiga, HULU-HILIR INDONESIA

Tak perlu Merek Indonesia ‘menjajah’ luar, cukuplah jika bangsa ini bangga menggunakan merek Indonesia, itu sudah awal yang bagus. Jika konsumsi merek Indonesia besar, produksi akan semakin masal. Selanjutnya, perlahan ketergantungan terhadap bahan impor kita kurangi, bahan baku bisa diproduksi di Indonesia. Jadilah Indonesia bangsa yang mandiri.

Yuk bangun dari tidurmu, kuasailah ilmu pemasaran. Mulailah bangun MEREKMU, kolaborasikan dengan para produsen canggih yang berjibun di Indonesia. Jangan lupa, gunakan ‘website’ dan media sosial sebagai pengungkit, penembus batas ruang dan waktu.
“Kemerdekaan saat ini adalah melepaskan diri dari penjajahan ekonomi dan ideologi"

Oleh : Jaya Setiabudi

REKRUT KARYAWAN YANG PERTAMA DAN YANG TERAKHIR

REKRUT KARYAWAN YANG PERTAMA DAN YANG TERAKHIR

"Delegasikanlah bisnis anda ke karyawan dan anda cari peluang lain" kalimat motivasi ini kerap kita dengar pada seminar bisnis atau kongkow pengusaha.

Bagi anda yang baru memulai bisnis, hati hati dengan anjuran tersebut. Jangan sampai justru menghancurkan lebih cepat bisnis anda.

Mengapa saya sampaikan ini?

Euforia bisnis sekarang sedang tinggi, semangat berbisnis tumbuh bak jamur di musim hujan. Ditambah maraknya kisah sukses pembisnis yang membius impian.

Para pembisnis baru (newbie) terlalu mempercayai teori bisnis namun terkadang lupa atau bahkan tidak memahami bisnis yang dijalaninya, menganggap remeh dan beres klo rekrut karyawan.

Anda harus tau bahwa owner Sinar Mas Group Eka Tjipta Widjaya dulu memanggul sendiri barang daganganya hingga bertahun-tahun tanpa karyawan.

Atau Bob Sadino yang penuh jerih payah mengetuk pintu menawarkan telur dengan tangan sendiri.

Tokoh sukses ini semua memulai bisnis sendiri, tidak langsung delegasi ke karyawan.

Pertanyaanya, kalau begitu kapan saatnya rekrut karyawan?

Kuatkan dulu sistem bisnis anda, ketika anda tidak bisa istirahat sedetikpun. Itulah saatnya anda rekrut karyawan.

Menngapa sampai begitu?

 Itu tandanya anda benar benar faham detail bisnis anda dan bahkan jika ada debu yang menempel diproduk, anda akan tau.

 Ekstrim banget....? Ya memang begitu.

Kehancuran bisnis dengan cepat karena belum apa apa anda sudah bermental Bos. Tidak mau berjibaku atau berlelah lelah dengan hal teknis.

"Kalau urusan teknis, serahkan ke karyawan aja" anda juga sering denger ini kan?

Ketahuilah sehebat apapun kemampuan teknis karyawan anda,  kalau sistem bisnis lemah maka tinggal menunggu kehancuran. Apalagi mental bos yang mendominasi.

Jadikan karyawan sebagai partner yang sejajar atau istilahnya "mengorang kan orang". Karyawan bukanlah budak yang hanya digunakan untuk melakukan pekerjaan teknis yang menurut anda profesi rendah.

Jadi jika masih bisa dikerjakan sendiri, mengapa harus gengsi dengan merekrut karyawan.

Jika masih miskin, mengapa bergaya bak bos besar.

Yakinlah sukses itu hanya tinggal menunggu moment yang tepat jika anda bersungguh sungguh berusaha.


Wallahu alam.