Minggu, 24 Desember 2017

Sharing bisnis kang Rendy di kopda Genpro

Jaring-jaring bisnis Kang Rendy di kopdar genpro

Di bisnis itu sangat tidak masuk akal Jika ada yang namanya MASA TENANG

Bisnis itu tidak ada masa tenang

Eks. Order menunggu pesanan pesanan yang siap dilayani sudah ada terjadwal, permintaan-permintaan pelanggan yang bertubi-tubi.

Di saat-saat seperti itu kita merasa itu stabil padahal sebenarnya itu adalah kita merasa ditarik atau ter kontraksi.

Sebuah bisnis ditarik dan berkontraksi atas 4 hal:

1.  Berkontraksi atas PELANGGAN
Contoh :
Kontraksi pelanggan :
*Kemarin di Risolnya besar-besar kok sekarang kecil.
*Jilbabnya kok warnanya ngga lengkap, modelnya kok kemarin lengkap sekarang gak ada.
*Kita jual harga Rp150.000 dia bilang di sana barangnya sama harganya cuma Rp110.000.
*Langganannya Pak ini selesainya Berapa lama 10 hari di sana selesainya lima hari

*Market is always  demanding*

Pelanggan itu selalu menuntut: lebih murah
lebih cepat
lebih banyak
free ongkir

Kalo kata Kang Rendy mah walaupun, Kita satu halaqah satu perjuangan dulu di kampus 1 dauroh. Sesama ikhwan... gak ngaruh yaa..
Pelanggan itu selalu demanding
Dia selalu mencari yang lebih baik lebih murah lebih cepat terus menerus begitu.

*Bisnis berkontraksi atas pelanggan*

2.  Berkontraksi atas supplier

Kita harus MEMBESAR jika kita tidak membesar suplayer akan membuat kompetitor untuk kita. Dia akan mengkader komputer terbaru Brand baru karena dia mau bertumbuh.

Ford xforce generik Porter

Supplier selalu membuat kita tertekan.

3. Berkontraksi dengan kompetitor.

Selalu ada kompetitor yang lebih murah, lebih cepat, lebih lengkap, dll.

Berkontraksi atas pembeli berkontraksi atas supplier berkontraksi atas kompetitor

4. Berkontraksi atas New Enternce
L

Sabtu, 02 Desember 2017

Perbedaan Riba dan Keuntungan (Jual Beli)

Perbedaan Riba dan Keuntungan (Jual Beli)

Dalam beberapa sumber, hadits dibawah ini sering digunakan sebagai dalil untuk menentukan apakah sebuah jual beli termasuk riba atau bukan.

“Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir, kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Barangsiapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba. Orang yang mengambil tambahan tersebut dan orang yang memberinya sama-sama berada dalam dosa” (HR. Muslim no. 1584).

Sekilas hadits ini berbicara tentang jual beli tetapi jika di pahami lebih lanjut akan ada beberapa kemungkinan kontek didalam hadits ini.

1. Jual beli
Hadits ini tidak mungkin dalam kontek jual beli karena tidak boleh ada selisih atau keuntungan. Jual beli ga boleh untung?

2. Barter
Tidak mungkin orang melakukan barter antara 1kg garam dengan 1kg garam atau 1kg gandum dengan 1kg gandum. Untuk apa?

3. Hutang piutang
Yang paling mungkin adalah kontek membayar hutang. Dan bayaran hutang tersebut tidak boleh dilebihkan atau biasa disebut riba.

Dengan demikian bisa diartikan secara konsisten bahwa

Riba,
adalah tambahan atau selisih yang TIDAK DIDASARI pertukaran barang atau jasa (jual beli).

Keuntungan,
adalah tambahan atau selisih yang DIDASARI pertukaran barang atau jasa (jual beli).

Riba hanya akan muncul karena hutang piutang.
Termasuk hutang piutang langsung atau dari jual beli tidak kontan.

Contoh.
1. Menukar uang
Sebagian pihak memasukkan barter ini kedalam jenis riba dengan dalil hadits diatas karena memahami bahwa hadits diatas konteknya barter.
Seperti penjelasan saya bahwa hadits tersebut konteknya adalah hutang piutang bukan barter.

Artinya selisih atau tambahan dalam jasa penukaran uang didasari atas pertukaran jasa antara kedua belah pihak dan tidak ada yang dirugikan. Termasuk keuntungan bukan riba

2. Titip beli
Jika kita minta tolong keseorang teman untuk membelikan suatu barang karena alasan jarak kemudian ditambahkan fee dengan persetujuan bersama, maka fee tersebut termasuk tambahan yang didasari pertukaran jasa dengan demikian termasuk keuntungan bukan riba.

3. Denda hutang
Ketika telat melunasi hutang kemudian ditambahkan denda berarti denda ini tidak didasari oleh pertukaran barang atau jasa dan disebut riba bukan keuntungan.

4. Bunga hutang
Jika berhutang kemudian diberi tambahan yang biasa disebut bunga maka tambahan ini tidak ada dasar pertukaran barang atau jasa sehingga termasuk riba bukan keuntungan.

5. Hutang di Bank Syariah
Bank Syariah tidak melayani hutang langsung karena hutang langsung tidak bisa menghasilkan keuntungan selain riba.
Bank Syariah melakukan hutang piutang melalui jual beli tidak kontan atau kredit untuk mendapatkan keuntungan.

6. Jual beli kredit
Selisih antara harga pasaran dengan harga jual didasari adanya pertukaran barang misalnya motor dengan demikian tambahan tersebut termasuk keuntungan bukan riba.
Yang menjadikan riba jika ada kesepakatan telat bayar akan maka kena tambahan hutang. Tambahan ini tidak ada dasar pertukaran barang atau jasa sehingga termasuk riba.

Bersambung (jika ada kasus lain)

* Semoga jadi hadiah buat maulid Muhammad saw 😁
* Sama sama berusaha lepas dari riba

Rabu, 29 November 2017

MARI PERBAIKI GENERASI “HOME SERVICE”

*MARI PERBAIKI GENERASI “HOME SERVICE”*

*Apa itu generasi “HOME SERVICE?”*

Generasi “HOME SERVICE” adl *generasi yg selalu minta dilayani*. Ini terjadi pd *anak2 yg hidupnya selalu dilayani oleh orangtuanya atau orang yg membantunya (pembantu/babysitter)*.

Mulai dari lahir mereka sdh diurus oleh pembantu, atau yg punya kekayaan berlebih diasuh oleh Babysitter yg selama 24 jam siap di samping sang anak. Kemana-mana anak didampingi oleh babysitter. Bahkan ada yg smp umur 9 th pun ada Babysitter yg masih mengurus keperluan si anak, krn orangtuanya sibuk bekerja.

Anak tidak dibiarkan mencari solusi sendiri. Contoh kecil saja, membuka bungkus permen, krn terbiasa ada babysitter atau pembantu, anak dg mudahnya menyuruh mereka membukakan bungkusnya. Tdk mau berusaha sendiri dulu atau mencari gunting misalnya.

Contoh lain, memakai kaus kaki dan sepatu. Krn tak sabar melihat anak mencoba memakai sepatunya sendiri, maka orang tuanya yg di sekitarnya buru-buru memakaikannya.

Saat anak sdh bisa makan sendiri, orangtua juga seringkali masih menyuapi, krn berpikir jika tdk disuapi makannya akan lama dan malah tdk makan.

Pdh jika anak dibiarkan tdk makan, maka anak tdk akan pernah merasa apa yg namanya lapar. Dan saat datang rasa lapar, seorang anak secara otomatis akan memasukkan makanan ke dlm mulutnya.

Bgmn dia akan belajar makan sendiri jika dia tdk pernah merasakan apa itu yg namanya lapar?

Bgmn dia akan belajar membuat minuman sendiri, jika dg hanya memanggil pembantu atau babysitter atau orangtuanya saja minuman itu akan datang kpdnya.

Saya mengutip perkataan seorang Psikolog dari Stanford University, Carol Dweck, beliau menulis temuan dari eksperimennya dlm *buku The New Psychology of Success*, “Hadiah terpenting dan terindah dari orangtua pd anak2nya adalah *tantangan*”.

*Tapi beranikah semua orangtua memberikan hadiah itu pada anak?*

Faktanya saat ini, banyak orangtua yg ingin segera menyelesaikan dan mengambil alih masalah anak, bukan memberikan tantangan.

Saat anak bertengkar dg temannya krn berebut mainan, orangtua malah memarahi teman anaknya itu dan membela sang anak.

Ada pula yg langsung membawanya pulang dan bilang, ”udah nanti Ibu belikan mainan spt itu bahkan yg lbh bagus dari yg punya temanmu, gak usah nangis”.

Pdh Ibu tsb bisa mengatakan, “Oh kamu ingin mainan spt yg punya temanmu ya?
Gak usah merebutnya sayang,kita nabung dulu ya nanti kalau uangnya sdh cukup kita akan sama2 ke toko mainan membeli mainan spt itu”.

Ada tantangan yg diberikan pd anak, bhw untuk mendptkan sesuatu yg diinginkan, maka dia hrs berusaha. Juga latihan membiasakan menahan diri, bukan selalu dikhabulkan saat itu.

Dlm keseharian, Generasi “HOME SERVICE “ semua pekerjaan rumah tangga tdk pernah dilibatkan. Saat anak membuat kamarnya berantakan, langsung memanggil asisten untuk segera merapihkan kembali.

Anak menumpahkan air di lantai, di lap lngs oleh Ibunya. Anak membuang sampah sembarangan, dibiarkan saja dan menunggu pembantu menyapu.
Dlm hal belajar, saat anak sulit belajar, orangtua telpon guru les untuk privat di rmh.

Generasi inilah yg nantinya akan melahirkan orang dewasa yg tdk bertanggungjawab, bermental lemah,dan bergaya hidup bos. 

Badannya dewasa tapi pikirannya spt anak2, krn tdk pernah bisa memutuskan sesuatu yg terbaik bagi dirinya.
Sekolah yg mencarikan orangtua. Rmh dibelikan orangtua,
Kendaraan yg belikan juga orangtua. Pokoknya semua tahu beres. Giliran berkeluarga yg mengasuh anak dan jadi pembantu di rmhnya juga orangtuanya.
Kasian banget sesungguhnya,sdh dimodalin banyak, ternyata akhirnya orangtua hanya akan berakhir jadi pembantu di rmh anaknya sendiri.

Sahabat Nabi Ali Bin Abi Thalib Rodhiaullohu 'anhu telah memberikan panduan dlm mendidik anak: _*“Ajaklah anak bermain pd tujuh tahun pertama, disiplinkanlah anak pd tujuh tahun kedua, dan bersahabatlah pd anak pd usia tujuh tahun ketiga.”*_ 

Untuk anak usia 7-14 th, mulailah mendisiplinkannya. Misalnya, menyuruhnya shalat tepat waktu, belajar berpuasa, mengerjakan PR sendiro sepulang sekolah, menyiapkan buku untuk esok pagi, membantu mencuci piring yg kotor, menyapu hlm rmh dll. Apabila anak umur 7-14 th ini tdk melakukan kewajibannya tsb maka perlu diingatkan *agar dia menjadi terbiasa dan disiplin, yg kelak akan membentuk diri yg hebat*.

*Untuk anak usia 14- 21 th, maka orangtua perlu menolong anak untuk belajar bgmn menggunakan waktunya, dan mengajari anak tentang skala prioritas.*

Anda yg sdh menjadi orangtua, maka pasti merasakan bgmn seorang Ibu hrs membagi waktunya yg hanya 24 jam itu untuk bisa mengelola rumah tangga. Pekerjaan yg tiada habisnya selama seharian.
Krn itu sebelum anda menjadi depresi sendiri, menghadapi realita anak Generasi Home Service ini, maka libatkanlah anak2 dlm pekerjaan rmh tangga, tanggungjwb dlm tugasnya, dan dlm setiap kegiatan keluarga.

Faktor terpenting dlm menyikapi GENERASI “HOME SERVICE “ adl peran ayah dlm perkerjaan rmh tangga dan kegiatan keluarga.

Di Indonesia masih banyak suami yg tdk mau terlibat dlm pekerjaan rumah tangga. Seakan-akan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci, menyetrika, mengepel dll itu adalah aib buat seorang suami. Padahal keikutsertaan para ayah dlm pekerjaan rumah tangga, berpengaruh positif thd keharmonisan keluarga.

Buat saya, suami yg mau melakukan pekerjaan rmh tangga itu lebih macho dan ganteng dari actor sekaliber Brad Pitt atau Jason Statham.

Jadi sdh siapkah keluarga anda menyikapi GENERASI “HOME SERVICE?” Yuk kita sama2 mulai dari sekarang, demi kebaikan dan masa depan anak2 kita kelak, dan juga demi bangsa ini, krn mereka adl generasi bangsa.

Diringkas dari tulisan: Deassy M D
Repost: _Ummu Abdurrohman_

Senin, 27 November 2017

Bagaimana Bisnis Bertahan?

Semangat pagi...

Bagaimana Bisnis Bertahan?

Sebagian orang yg hanya melihat pemilik bisnis secara kasat mata, pasti akan bergumam “enak ya punya bisnis, punya banyak uang, bisa sukses”

Sebagian lagi ada juga yg bilang “Pengen deh kaya si anu, bisnis nya udah sukses, enak gak banyk pikiran, gak ada tekanan kerja, bla bla...

Mereka tidak pernah melihat apa yg harus dilalui oleh pebisnis itu, jatuh bangun, susah payah, berdarah2 bahkan kadang makan tidur gak ada enaknya.

Begitulah ciri2 orang yg membangun bisnis, ketika seseorang memutuskan utk membangun bisnis maka mereka harus mau menerima semua konsekuensinya. Pahit, susah, jatuh bangun, semua harus dengan rela dijalani, karena bisnis adalah pilihan

Itulah mengapa bisnis yg dibangun dari nol oleh pemiliknya dengan sebuah visi memiliki kekuatan lebih untuk bertahan dalam segala kondisi. karena pebisnis itu sudah pernah melalui semua alur bisnis nya mulai dari hal terkecil sampai terbesar dan sulit.  

Ketika ada masalah dalam bisnis nya dia tidak akan goyah sampai mau runtuh, paling sedikit oleng 😂 , karena dia mengerti bagaimana cara menyelesaikan nya, seperti saat dulu dia mengerjakan semua nya sendiri. Dia hanya perlu bersabar untuk mengulang pekerjaan2 itu, sembari menyelesaikan masalah bisnisnya.

Oleh karena itu, jika ada yg bertanya bagaimana sebuah bisnis bertahan? maka jawabnya “ Bagaiman pemilik bisnis itu mampu bertahan disegala suasana” Karena Ruh bisnis ada didalam jiwa pemilik bisnis 😇😇

Soo kuatkan diri dan hatimu, maka bisnis mu akan mampu bertahan (in syaa Allah) 😘

Allahuakbar

Kamis, 23 November 2017

Mengelola Keuangan Rumah Tangga Yang Islami

Mengelola Keuangan Rumah Tangga Yang Islami


Oleh: Prof Muhammad (Ketua Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Yogyakarta)
Harta dalam Islam merupakan amanah dan hak milik seseorang. Kewenangan untuk menggunakannya terkait erat dengan adanya kemampuan (kompetensi) dan kepantasan (integritas) dalam mengelola aset atau dalam
istilah prinsip kehati-hatian perbankan. Prinsip Islam mengajarkan bahwa “Sebaik-baik harta yang shalih (baik) adalah dikelola oleh orang yang berkepribadian shalih (amanah dan
profesional).”
Hak bekerja dalam arti kebebasan berusaha, berdagang, memproduksi barang maupun jasa untuk mencari rezki Allah secara halal merupakan hak setiap manusia tanpa diskriminasi antara laki dan perempuan. Bila kita tahu bahwa kaum wanita diberikan oleh Allah hak milik dan kebebasan untuk memiliki, maka sudah semestinya mereka
juga memiliki hak untuk berusaha dan mencari rezki.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji seseorang yang mengkonsumsi hasil usahanya sendiri dengan sabdanya: “Tidaklah seseorang mengkonsumsi makanan lebih baik dari mengkonsumsi makanan yang diperoleh dari hasil kerja sendiri, sebab nabi Allah, Daud, memakan makanan dari hasil kerjanya.” (HR. Bukhari). “Semoga Allah merahmati seseorang yang mencari penghasilan secara baik, membelanjakan harta secara hemat dan menyisihkan tabungan sebagai persediaan di saat kekurangan dan kebutuhannya.” (HR. Muttafaq ‘Alaih).
Hal ini menunjukkan bahwa Islam menghendaki setiap muslim untuk dapat mengelola usaha dan berusaha secara baik, mengelola dan memenej harta secara ekonomis, efisien dan proporsional serta memiliki semangat dan kebiasaan menabung untuk masa depan dan persediaan kebutuhan mendatang. Prinsip ini sebenarnya menjadi dasar ibadah kepada Allah agar dapat diterima (mabrur) karena saran, niat dan caranya baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah itu baik dan hanya menerima yang baik-baik saja.” (HR. Muslim).
Kesadaran akuntabilitas (ma’uliyah) dalam bidang keuangan itu yang mencakup aspek manajemen pendapatan dan pengeluaran timbul karena keyakinan adanya kepastian audit dan pengawasan dari Allah subhanahu wa ta’ala seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Kedua telapak kaki seorang hamba tidak akan beranjak dari tempat kebangkitannya di hari kiamat sebelum ia ditanya tentang empat hal, di antaranya tentang hartanya; dari mana dia memperoleh dan bagaimana ia membelanjakan.” (HR. Tirmidzi).
NAFKAH DALAM KELARGA
Secara prinsip, fitrah kewajiban memberikan nafkah merupakan tanggung jawab suami sehingga wajib bekerja dengan baik melalui usaha yang halal dan wanita sebagai kaum istri bertanggung jawab mengelola dan merawat aset
keluarga. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Kaum laki-laki itu adalah pengayom bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebahagian dari harta mereka…” (QS. An-Nisa:34).
Dengan demikian, posisi kepala rumah tangga bagi suami paralel dengan konsekuensi memberi nafkah dan komitmen perawatan keluarganya secara lazim. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara proporsional telah mendudukkan posisi masing-masing bagi suami istri dalam sabdanya: “Setiap kalian adalah pengayom dan setiap pengayom akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang harus diayominya. Suami adalah pengayom bagi keluarganya dan bertanggung jawab atas anggota keluarga yang diayominya. Istri adalah pengayom bagi rumah tangga rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas aset rumah tangga yang diayominya…” (HR. Bukhari)
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahkan putrinya, Fatimah dengan Ali radhiyallahu ‘anhuma beliau berwasiat kepada menantunya: “Engkau berkewajiban bekerja dan berusaha sedangkan ia berkewajiban mengurus (memenej) rumah tangga.” (HR. Muttafaq ‘Alaih)
Jadi, sharing suami-istri dalam aspek keuangan keluarga adalah dalam bentuk tanggung jawab suami untuk mencari nafkah halal dan tanggung jawab istri untuk mengurus, mengelola, merawat dan memenej keuangan rumah tangga.
Meskipun demikian, bukan berarti suami tidak boleh memberikan bantuan dalam pengelolaan aset dan keuangan rumah tangganya bila istri kurang mampu atau memerlukan bantuan. Dan juga sebaliknya tidak ada larangan Syariah bagi istri untuk membantu suami terlebih ketika kurang mampu dalam memenuhi kebutuhan keluarga dengan cara yang halal dan baik serta tidak membahayakan keharmonisan dan kebahagiaan rumah tangga selama
suami mengizinkan, bahkan hal itu akan bernilai kebajikan bagi sang istri. Bukankah Khadijah radhiyallahu ‘anha. ikut andil dalam membantu mencukupi kebutuhan keluarga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. sebagai bentuk ukhuwah dan tolong menolong dalam kebajikan. (QS.Al-Maidah:2)
Prinsip keadilan Islam menjamin bagi kaum wanita hak untuk mencari karunia Allah (rezki) sesuai kodrat tabiatnya dan ketentuan syariat dengan niat mencukupi diri dan keluarga untuk beribadah kepada Allah secara khusyu’. Meskipun demikian, istri harus memiliki keyakinan bahwa tugas utama dalam keluarganya adalah mengatur urusan rumah tangga dan mengelola keuangan keluarga bukan mencari nafkah. Para Ahli tafsir (Mufassirin) menyimpulkan dari surat An-Nisa: 32 : “bagi para lelaki ada bahagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan…”, prinsip dasar hak dan kebebasan wanita untuk berusaha mencari rezki. Sejarah Islam di masa Nabi telah membuktikan adanya sosial kaum wanita dalam peperangan, praktek pengobatan dan pengurusan logistik. Di samping itu mereka juga terlibat dalam aktivitas perniagaan dan membantu suami dalam pertanian.
MANAJEMEN KEUANGAN KELUARGA
Manajemen keuangan keluarga islami harus dilandasi prinsip keyakinan bahwa penentu dan pemberi rezki adalah Allah dengan usaha yang diniati untuk memenuhi kebutuhan keluarga agar dapat beribadah dengan khusyu’  sehingga memiliki komitmen dan prioritas penghasilan halal yang membawa berkah dan menghindari penghasilan haram yang membawa petaka. Rasulullah bersabda: “Barang siapa berusaha dari yang haram kemudian menyedekahkannya, maka ia tidak mempunyai pahala dan dosa tetap di atasnya.
Dalam riwayat lain disebutkan: “Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, tidaklah seorang hamba memperoleh
penghasilan dari yang haram kemudian membelanjakannya itu akan mendapat berkah. Jika ia bersedekah, maka sedekahnya tidak akan diterima. Tidaklah ia menyisihkan dari penghasilan haramnya itu kecuali akan
menjadi bekal baginya di neraka. Sesungguhnya Allah tidak akan menghapus kejelekan dengan kejelekan, tetapi menghapus kejelekan itu dengan kebaikan sebab kejelekan tak dapat dihapus dengan kejelekan pula.”
 (HR. Ahmad)
Dan sabdanya: “Daging yang tumbuh dari harta haram tidak akan bertambah kecuali neraka lebih pantas baginya.” (HR. Tirmidzi).
Seorang wanita shalihah akan selalu memberi saran kepada suaminya ketika hendak mencari rezki, “Takutlah kamu dari usaha yang haram sebab kami masih mampu bersabar di atas kelaparan, tetapi tidak mampu bersabar di atas
api neraka.” Demikian pula sebaliknya suami akan berwasiat kepada istrinya untuk menjaga amanah Allah dalam mengurus harta yang dikaruniakan-Nya, agar dibelanjakan secara benar tanpa boros, kikir maupun haram. Firman Allah yang memuji hamba-Nya yang baik: “..Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak
berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.”
 (QS. Al-Furqan:67)
Dalam mencari pendapatan, Islam tidak memperkenankan seseorang untuk ngoyo dalam pengertian berusaha di luar kemampuannya dan terlalu terobsesi sehingga mengorbankan atau menelantarkan hak-hak yang lain baik kepada Allah, diri maupun keluarga seperti pendidikan dan perhatian kepada anak dan keluarga. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya bagi dirimu, keluargamu dan tubuhmu ada hak atasmu yang harus engkau penuhi, maka berikanlah masing-masing pemilik hak itu haknya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Allah telah menegaskan bahwa bekerja itu hendaknya sesuai dengan batas-batas kemampuan manusia.(QS.Al-Baqarah:286). Namun bila kebutuhan sangat banyak atau pasak lebih besar daripada tiang maka dibutuhkan kerjasama yang baik dan saling membantu antara suami istri dalam memperbesar pendapatan keluarga dan melakukan efisiensi dan penghematan sehingga tiang penyangga lebih besar dari pada pasak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kamu bebani mereka dengan apa-apa yang mereka tidak sanggup memikulnya. Dan apabila kamu harus membebani mereka di luar kemampuan, maka
bantulah mereka.
” (HR. Ibnu Majah).
Dalam manajemen keuangan keluarga juga tidak dapat dilepaskan dari optimalisasi potensi keluarga termasuk anak-anak untuk menghasilkan rezki Allah. Islam senantiasa memperhatikan masalah pertumbuhan anak dengan anjuran agar anak-anak dilatih mandiri dan berpenghasilan sejak usia remaja di samping berhemat agar pertumbuhan ekonomi keluarga muslim dapat berjalan lancar yang merupakan makna realisasi keberkahan secara kuantitas maka Islam melarang orang tua untuk memanjakan anak-anak sehingga tumbuh menjadi benalu, tidak mandiri dan bergantung kepada orang lain. Firman Allah Swt. di awal (QS. An-Nisa [4]:6) mengisyaratkan bahwa kita wajib mendidik dan membiasakan anak-anak untuk cakap mengurus, mengelola dan mengembangkan harta, sehingga mereka dapat hidup mandiri yang nantinya akan menjadi kepala rumah tangga bagi laki-laki dan pengurus keuangan keluarga bagi perempuan, di samping anak terlatih untuk bekerja, meringankan beban dan membantu orang tua.
PEMBELANJAAN DAN POLA KONSUMSI ISLAMI
Pengeluaran atau pembelanjaan adalah mengelola harta yang halal untuk mendapatkan manfaat material ataupun spiritual sehingga membantu para anggota keluarga dalam memenuhi kebutuhannya. Dalam hal ini terdapat beberapa jenis pembelanjaan yang bermanfaat bagi generasi yang akan datang, dan pembelanjaan dengan jalan baik (amal shaleh) untuk mendapatkan pahala di akhirat, seperti zakat dan sedekah.
Syariat Islam mengajarkan beberapa aturan yang mengatur pembelanjaan keluarga muslim, di antaranya secara garis besar adalah:
1. Komitmen pembelanjaan dan pemenuhan kebutuhan dana adalah kewajiban suami
Suami bertanggung jawab mencari nafkah untuk istri dan anak-anaknya sesuai dengan kebutuhan dan batas-batas kemampuannya. Allah berfirman: “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekadar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. At-Thalaq [65]:7)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “barang siapa yang menafkahkan hartanya untuk istri, anak dan penghuni rumah tangganya, maka ia telah bersedekah.” (HR. Thabrani).
Hadits ini mengisyaratkan bahwa pemenuhan kebutuhan dana atau pembelanjaan untuk anggota keluarga itu akan berubah dari bentuk pengeluaran yang bersifat material (nafkah) menjadi pengeluaran yang bersifat spiritual ibadah (infaq) yang membawa pahala dari Allah. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam Haji Wada’: Ayomilah
kaum wanita (para istri) karena Allah, sebab mereka adalah mitra penolong bagimu. Kamu telah memperistri mereka dengan amanah Allah dan kemaluan mereka menjadi halal bagimu dengan kalimat Allah. Kamu berhak
melarang mereka untuk membiarkan orang yang engkau benci memasuki kediamanmu. Mereka berhak atasmu untuk dipenuhi kebutuhan nafkah dan pakaian secara lazim.”
Menjawab pertanyaan seorang sahabat tentang kewajiban suami terhadap istrinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dia memberinya makan ketika dia makan dan memberinya pakaian ketika ia berpakaian, serta janganlah dia meninggalkannya kecuali sekadar pisah ranjang dalam rumah. Ia tidak boleh memukul wajahnya dan menjelek-jelekkannya.” Hindun binti Utbah, istri Abu Sufyan pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bercerita bahwa Abu Sufyan adalah seorang suami yang pelit, “ia tidak pernah memberiku dan anak-anakku nafkah secara cukup. Oleh karena itu aku pernah mencuri harta miliknya tanpa sepengetahuannya.” Lalu rasul bersabda: “Ambillah dari hartanya dengan ma’ruf (baik-baik) sebatas apa yang dapat mencukupimu dan anakmu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Seorang sahabat bercerita kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa dia mempunyai uang satu dinar. Rasulullah bersabda: “Bersedekahlah dengannya untuk dirimu, kemudian sahabat itu bertanya, ‘bagaimana jika
aku mempunyai sesuatu yang lain?’ rasul menjawab, ‘bersedekahlah dengannya untuk istrimu.’ Kemudian ia bertanya lagi, ‘dan bagaimana jika aku mempunyai sesuatu yang lain?’ Rasul menjawab, ‘bersedekahlah
dengannya untuk pelayanmu.”
 (HR. Muttafaq ‘Alaih).
2. Kewajiban menafkahi orang tua yang membutuhkan
Di antara kewajiban anak adalah memberi nafkah kepada orang tuanya yang sudah lanjut usia (jompo) sebagai salah satu bentuk berbuat baik kepada orang tua, seperti diisyaratkan Al-Qur’an: “Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al-Isra:23). Rasul bersabda: “Kedua orang tua itu boleh makan dari harta anaknya secara ma’ruf (baik) dan
anak tidak boleh memakan harta kedua orang tuanya tanpa seizin mereka.”
 (HR. Dailami)
Menurut Ibnu Taimiyah, seorang anak yang kaya wajib menafkahi bapak, ibu dan saudara-saudaranya yang masih kecil. Jika anak itu tidak melaksanakan kewajibannya, berarti ia durhaka terhadap orang tuanya dan berarti telah memutuskan hubungan kekerabatan. Selain itu, suami dan istri harus percaya bahwa memberi nafkah kepada kedua orang tua adalah suatu kewajiban seperti halnya membayar utang kedua orang tua yang bersifat mengikat dan bukan sekadar sukarela. Hal itu tidak sama dengan memberikan sedekah kepada kerabat yang membutuhkan yang sifatnya kebajikan.
3. Istri Boleh Membantu Keuangan Suami
Jika seorang suami tidak mampu mencukupi kebutuhan rumah tangganya karena fakir, istri boleh membantu suaminya dengan cara bekerja atau berdagang. Hal itu merupakan salah satu bentuk ta’awun ‘ala birri wat taqwa
(saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan) yang dianjurkan Islam. Selain itu, istri pun boleh memberikan zakat hartanya kepada suaminya yang fakir atau memberi pinjaman kepada suami apabila suami
tidak termasuk fakir yang berhak menerima zakat.
4. Istri Bertanggung Jawab Mengatur Keuangan Rumah Tangga
Telah dijelaskan bahwa suami wajib berusaha dan bekerja dari harta yang halal dan istri bertanggung jawab mengatur belanja dan konsumsi keluarga dalam koridor mewujudkan lima tujuan syariat Islam, yaitu dalam rangka
memelihara agama, akal, kehormatan, jiwa dan harta. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam“Istri adalah pengayom bagi rumah tangga suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas aset rumah tangga yang diayominya…” (HR. Bukhari). “Bila seorang istri menyedekahkan makanan rumah tanpa efek yang merusak kebutuhan keluarga, maka dia mendapat pahala dari amalnya. Demikian pula suami mendapatkan pahala dari hasil usahanya, demikian pula pelayan mendapatkan bagian pahala tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (HR. Tahbrani).
5. Istri berkewajiban untuk hemat dan ekonomis.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak akan jatuh miskin orang yang berhemat”. (HR. Ahmad). Selain itu ia harus realistis menerima apa yang dimilikinya (qana’ah). Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezki cukup dan menerima apa yang Allah berikan kepadanya.” (HR. Muttafaq ‘Alaih).
6. Seimbang Antara Pendapatan dan Pengeluaran yang Bermanfaat
Istri tidak boleh membebani suami dengan beban kebutuhan dana di luar kemampuannya. Ia harus dapat mengatur pengeluaran rumah tangganya seefisien mungkin menurut skala prioritas sesuai dengan penghasilan dan pendapatan suami, tidak boros dan konsumtif. (QS. Al-Baqarah:236, 286)
Abu bakar pernah berkata: “Aku membenci penghuni rumah tangga yang membelanjakan atau menghabiskan bekal untuk beberapa hari dalam satu hari saja.”
Islam menganjurkan umatnya untuk bekerja dan berusaha dengan baik . Islam juga menganjurkan agar hasil usahanya dikeluarkan untuk tujuan yang baik dan bermanfaat. Keluarga muslim dalam mengelola pembelanjaan, harus berprinsip pada pola konsumsi islami yaitu berorientasi kepada kebutuhan  (need) di samping manfaat (utility) sehingga hanya akan belanja apa yang dibutuhkan dan hanya akan membutuhkan apa yang bermanfaat. (QS. Al-Baqarah:172, Al-Maidah:4, Al-A’raf:32). Dalam berumah tangga, suami-istri hendaknya memiliki konsep bahwa pembelanjaan hartanya akan berpahala jika dilakukan untuk hal-hal yang baik dan sesuai dengan perintah agama. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam“Sesungguhnya tidaklah kamu menafkahkan suatu nafkah dengan ikhlas karena Allah kecuali kamu mendapat pahala darinya.” (Muttafaq ‘Alaih).
7. Skala Prioritas Pengeluaran (Perlu/Needs Vs Ingin/Wants)
Islam mengajarkan agar pengeluaran rumah tangga muslim lebih mengutamakan pembelian kebutuhan-kebutuhan pokok sehingga sesuai dengan tujuan syariat. Ada tiga jenis kebutuhan rumah tangga, yaitu:
a. Kebutuhan primer, yaitu nafkah-nafkah pokok bagi manusia yang diperkirakan dapat mewujudkan lima tujuan syariat (memelihara jiwa, akal, agama, keturunan dan kehormatan). Kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan makan, minum, tempat tinggal, kesehatan, rasa aman, pengetahuan dan pernikahan.
b. Kebutuhan sekunder, yaitu kebutuhan untuk memudahkan hidup agar jauh dari kesulitan. Kebutuhan ini tidak perlu dipenuhi sebelum kebutuhan primer terpenuhi. Kebutuhan ini pun masih berhubungan dengan lima tujuan syariat.
c. kebutuhan pelengkap, yaitu kebutuhan yang dapat menambah kebaikan dan kesejahteraan dalam kehidupan manusia. Pemenuhan kebutuhan ini bergantung pada kebutuhan primer dan sekunder dan semuanya berkaitan dengan tujuan syariat.
Prioritas konsumsi dan pembelanjaan ini juga terkait dengan prioritas hak-hak yaitu hak terhadap diri (keluarga), Allah (agama), orang lain. Orang lain juga diukur menurut kedekatan nasab dan rahim, yang paling utama adalah orang tua kemudian saudara. (QS.Al-Anfal:75) Aplikasi aturan-aturan di atas menuntut peran ibu rumah tangga untuk memperhitungkan pengeluaran rumah tangga secara bulanan berdasarkan tiga kebutuhan di atas, dengan tetap menyesuaikannya dengan pendapatan, sehingga rumah tangga muslim terhindar dari masalah-masalah perekonomian yang ditimbulkan atau sikap boros untuk hal yang bukan primer.
Islam mengharamkan pengeluaran yang berlebih-lebihan dan bermewah-mewahan karena dapat mengundang kerusakan dan kebinasaan. Allah berfirman: “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (suatu mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Isra’:16).
Selain itu, bergaya hidup mewah merupakan salah satu sifat orang-orang yang kufur terhadap nikmat Allah. Firman-Nya: “Pemuka-pemuka yang kafir di antara kaumnya dan yang mendustakan akan menemui hari akhirat (kelak) dan yang telah Kami mewahkan mereka dalam kehidupan di dunia…” (QS. Al-Mu’minun:33). Nabi juga sangat membenci gaya hidup mewah: “Makan, minum dan berpakaianlah sesukamu, sebab yang membuat kamu berbuat
kesalahan itu dua perkara: bergaya hidup mewah dan berprasangka buruk.”
 (HR. Ibnu Umar dan Ibnu Abbas).
8. Bersikap Pertengahan dalam Pembelanjaan
Islam mengajarkan sikap pertengahan dalam segala hal termasuk dalam manajemen pembelanjaan, yaitu tidak berlebihan dan tidak pula kikir atau terlalu ketat. Sikap berlebihan adalah sikap hidup yang dapat merusak jiwa,
harta dan masyarakat, sementara kikir adalah sikap hidup yang dapat menimbun, memonopoli dan menganggurkan harta. Kedua pola ekstrim dalam konsumsi itu memiliki mendekati sifat mubadzir. Firman Allah:
“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah  pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqon :67)
“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (QS. Al-Isra:29) “dan janganlah kamu
menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya.”
 (QS. Al-Isra’: 26-27)
Sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam“Allah akan memberikan rahmat kepada seseorang yang berusaha dari yang baik, membelanjakan dengan pertengahan dan dapat menyisihkan kelebihan untuk menjaga pada hari ia miskin dan membutuhkannya.” (HR. Ahmad).
“Tidak akan miskin orang yang bersikap pertengahan dalam pengeluaran.” (HR. Ahmad).
Jika pembelanjaan kita telah sesuai dengan aturan-aturan Islam, Allah akan memajukan usaha kita serta melipatgandakan pahala dan berkah-Nya. Bahkan Allah akan memberikan kelebihan hasil usaha agar kita dapat menyimpan dan menabungnya untuk menjaga datangnya hal-hal yang tidak terduga atau untuk menjaga kelangsungan hidup generasi yang akan datang.
Semoga bermanfaat!

7. Skala Prioritas Pengeluaran (Perlu/Needs Vs Ingin/Wants)


 
7. Skala Prioritas Pengeluaran (Perlu/Needs Vs Ingin/Wants)
 
Islam mengajarkan agar pengeluaran rumah tangga muslim lebih mengutamakan pembelian kebutuhan-kebutuhan pokok sehingga sesuai dengan tujuan syariat. Ada tiga jenis kebutuhan rumah tangga, yaitu:
 
a. Kebutuhan primer, yaitu nafkah-nafkah pokok bagi manusia yang diperkirakan dapat mewujudkan lima tujuan syariat (memelihara jiwa, akal, agama, keturunan dan kehormatan). Kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan makan, minum, tempat tinggal, kesehatan, rasa aman, pengetahuan dan pernikahan.
 
b. Kebutuhan sekunder, yaitu kebutuhan untuk memudahkan hidup agar jauh dari kesulitan. Kebutuhan ini tidak perlu dipenuhi sebelum kebutuhan primer terpenuhi. Kebutuhan ini pun masih berhubungan dengan lima tujuan syariat.
 
c. Kebutuhan pelengkap. Yaitu kebutuhan yang dapat menambah kebaikan dan kesejahteraan dalam kehidupan manusia. Pemenuhan kebutuhan ini bergantung pada kebutuhan primer dan sekunder dan semuanya berkaitan dengan tujuan syariat.
 
d. Prioritas. Yaitu konsumsi dan pembelanjaan ini juga terkait dengan prioritas hak-hak yaitu hak terhadap diri (keluarga), Allah (agama), orang lain. Orang lain juga diukur menurut kedekatan nasab dan rahim, yang paling utama adalah orang tua kemudian saudara. (QS.Al-Anfal:75)

Aplikasi aturan-aturan di atas menuntut peran ibu rumah tangga untuk memperhitungkan pengeluaran rumah tangga secara bulanan berdasarkan tiga kebutuhan di atas, dengan tetap menyesuaikannya dengan pendapatan, sehingga rumah tangga muslim terhindar dari masalah-masalah perekonomian yang ditimbulkan atau sikap boros untuk hal yang bukan primer.
 
Islam mengharamkan pengeluaran yang berlebih-lebihan dan bermewah-mewahan karena dapat mengundang kerusakan dan kebinasaan. Allah berfirman: “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (suatu mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Isra’:16).
 
Selain itu, bergaya hidup mewah merupakan salah satu sifat orang-orang yang kufur terhadap nikmat Allah. Firman-Nya: “Pemuka-pemuka yang kafir di antara kaumnya dan yang mendustakan akan menemui hari akhirat (kelak) dan yang telah Kami mewahkan mereka dalam kehidupan di dunia…” (QS. Al-Mu’minun:33).

Nabi juga sangat membenci gaya hidup mewah: “Makan, minum dan berpakaianlah sesukamu, sebab yang membuat kamu berbuat kesalahan itu dua perkara: bergaya hidup mewah dan berprasangka buruk.” (HR. Ibnu Umar dan Ibnu Abbas).
 
8. Bersikap Pertengahan dalam Pembelanjaan
 
Islam mengajarkan sikap pertengahan dalam segala hal termasuk dalam manajemen pembelanjaan, yaitu tidak berlebihan dan tidak pula kikir atau terlalu ketat. Sikap berlebihan adalah sikap hidup yang dapat merusak jiwa, harta dan masyarakat, sementara kikir adalah sikap hidup yang dapat menimbun, memonopoli dan menganggurkan harta. Kedua pola ekstrim dalam konsumsi itu memiliki mendekati sifat mubadzir.
 
Firman Allah: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqon :67)

“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (QS. Al-Isra:29)

“dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya.” (QS. Al-Isra’: 26-27)
 
Sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Allah akan memberikan rahmat kepada seseorang yang berusaha dari yang baik, membelanjakan dengan pertengahan dan dapat menyisihkan kelebihan untuk menjaga pada hari ia miskin dan membutuhkannya.” (HR. Ahmad).
 
“Tidak akan miskin orang yang bersikap pertengahan dalam pengeluaran.” (HR. Ahmad).
 
Jika pembelanjaan kita telah sesuai dengan aturan-aturan Islam, Allah akan memajukan usaha kita serta melipatgandakan pahala dan berkah-Nya. Bahkan Allah akan memberikan kelebihan hasil usaha agar kita dapat menyimpan dan menabungnya untuk menjaga datangnya hal-hal yang tidak terduga atau untuk menjaga kelangsungan hidup generasi yang akan datang.
 
Semoga bermanfaat!

8 Cara Mengatur Keuangan Keluarga yang Dicontohkan Rasulullah

8 Cara Mengatur Keuangan Keluarga yang Dicontohkan Rasulullah 




Ayah Bunda, Islam mengajarkan seluruh aspek kehidupan kita termasuk dalam keuangan. Syariat Islam mengajarkan beberapa aturan yang mengatur pembelanjaan keluarga muslim. di antaranya secara garis besar adalah:
 
1. Komitmen pembelanjaan dan pemenuhan kebutuhan dana adalah kewajiban suami.
Suami bertanggung jawab mencari nafkah untuk istri dan anak-anaknya sesuai dengan kebutuhan dan batas-batas kemampuannya. Allah berfirman: “Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekadar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. At-Thalaq [65]:7)
 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: “Barang siapa yang menafkahkan hartanya untuk istri, anak dan penghuni rumah tangganya, maka ia telah bersedekah.” (HR. Thabrani).
 
Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam Haji Wada’: “Ayomilah kaum wanita (para istri) karena Allah, sebab mereka adalah mitra penolong bagimu. Kamu telah memperistri mereka dengan amanah Allah dan kemaluan mereka menjadi halal bagimu dengan kalimat Allah. Kamu berhak melarang mereka untuk membiarkan orang yang engkau benci memasuki kediamanmu. Mereka berhak atasmu untuk dipenuhi kebutuhan nafkah dan pakaian secara lazim.”
 
Menjawab pertanyaan seorang sahabat tentang kewajiban suami terhadap istrinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dia memberinya makan ketika dia makan dan memberinya pakaian ketika ia berpakaian, serta janganlah dia meninggalkannya kecuali sekadar pisah ranjang dalam rumah. Ia tidak boleh memukul wajahnya dan menjelek-jelekkannya.”
 
Hindun binti Utbah, istri Abu Sufyan pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bercerita bahwa Abu Sufyan adalah seorang suami yang pelit, “Ia tidak pernah memberiku dan anak-anakku nafkah secara cukup. Oleh karena itu aku pernah mencuri harta miliknya tanpa sepengetahuannya.” Lalu rasul bersabda: “Ambillah dari hartanya dengan ma’ruf (baik-baik) sebatas apa yang dapat mencukupimu dan anakmu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
 
Seorang sahabat bercerita kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa dia mempunyai uang satu dinar. Rasulullah bersabda: “Bersedekahlah dengannya untuk dirimu, kemudian sahabat itu bertanya, ‘bagaimana jika aku mempunyai sesuatu yang lain?’ Rasul menjawab, ‘bersedekahlah dengannya untuk istrimu.’ Kemudian ia bertanya lagi, ‘dan bagaimana jika aku mempunyai sesuatu yang lain?’ Rasul menjawab, ‘bersedekahlah dengannya untuk pelayanmu.” (HR. Muttafaq ‘Alaih).
 
2. Kewajiban menafkahi orang tua yang membutuhkan
Diantara kewajiban anak adalah memberi nafkah kepada orang tuanya yang sudah lanjut usia (jompo) sebagai salah satu bentuk berbuat baik kepada orang tua, seperti diisyaratkan Al-Qur’an:

“Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al-Isra:23).

Rasul bersabda: “Kedua orang tua itu boleh makan dari harta anaknya secara ma’ruf (baik) dan anak tidak boleh memakan harta kedua orang tuanya tanpa seizin mereka.” (HR. Dailami)
 
Menurut Ibnu Taimiyah, seorang anak yang kaya wajib menafkahi bapak, ibu dan saudara saudaranya yang masih kecil. Jika anak itu tidak melaksanakan kewajibannya, berarti ia durhaka terhadap orang tuanya dan berarti telah memutuskan hubungan kekerabatan. Selain itu, suami dan istri harus percaya bahwa memberi nafkah kepada kedua orang tua adalah suatu kewajiban seperti halnya membayar utang kedua orang tua yang bersifat mengikat dan bukan sekadar sukarela. Hal itu tidak sama dengan memberikan sedekah kepada kerabat yang membutuhkan yang sifatnya kebajikan.

3. Istri Boleh Membantu Keuangan Suami
 
Jika seorang suami tidak mampu mencukupi kebutuhan rumah tangganya karena fakir, istri boleh membantu suaminya dengan cara bekerja atau berdagang. Hal itu merupakan salah satu bentuk ta’awun ‘ala birri wat taqwa (saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan) yang dianjurkan Islam. Selain itu, istri pun boleh memberikan zakat hartanya kepada suaminya yang fakir atau memberi pinjaman kepada suami apabila suami tidak termasuk fakir yang berhak menerima zakat.
 
4. Istri Bertanggung Jawab Mengatur Keuangan Rumah Tangga
 
Telah dijelaskan bahwa suami wajib berusaha dan bekerja dari harta yang halal dan istri bertanggung jawab mengatur belanja dan konsumsi keluarga dalam koridor mewujudkan lima tujuan syariat Islam, yaitu dalam rangka memelihara agama, akal, kehormatan, jiwa dan harta.

Sabda Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Istri adalah pengayom bagi rumah tangga suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas aset rumah tangga yang diayominya…” (HR. Bukhari).

“Bila seorang istri menyedekahkan makanan rumah tanpa efek yang merusak kebutuhan keluarga, maka dia mendapat pahala dari amalnya. Demikian pula suami mendapatkan pahala dari hasil usahanya, demikian pula pelayan mendapatkan bagian pahala tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (HR. Tahbrani).
 
5. Istri berkewajiban untuk hemat dan ekonomis.
 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak akan jatuh miskin orang yang berhemat”. (HR. Ahmad). Selain itu ia harus realistis menerima apa yang dimilikinya (qana’ah). Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezki cukup dan menerima apa yang Allah berikan kepadanya.” (HR. Muttafaq ‘Alaih).
 
6. Seimbang Antara Pendapatan dan Pengeluaran yang Bermanfaat
 
Istri tidak boleh membebani suami dengan beban kebutuhan dana di luar kemampuannya. Ia harus dapat mengatur pengeluaran rumah tangganya seefisien mungkin menurut skala prioritas sesuai dengan penghasilan dan pendapatan suami, tidak boros dan konsumtif. (QS. Al-Baqarah:236, 286)

Abu bakar pernah berkata: “Aku membenci penghuni rumah tangga yang membelanjakan atau menghabiskan bekal untuk beberapa hari dalam satu hari saja.”
 
Islam menganjurkan umatnya untuk bekerja dan berusaha dengan baik . Islam juga menganjurkan agar hasil usahanya dikeluarkan untuk tujuan yang baik dan bermanfaat. Keluarga muslim dalam mengelola pembelanjaan, harus berprinsip pada pola konsumsi islami yaitu berorientasi kepada kebutuhan (need) di samping manfaat (utility) sehingga hanya akan belanja apa yang dibutuhkan dan hanya akan membutuhkan apa yang bermanfaat.

(QS. Al-Baqarah:172, Al-Maidah:4, Al-A’raf:32).
 
Dalam berumah tangga, suami-istri hendaknya memiliki konsep bahwa pembelanjaan hartanya akan berpahala jika dilakukan untuk hal-hal yang baik dan sesuai dengan perintah agama. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya tidaklah kamu menafkahkan suatu nafkah dengan ikhlas karena Allah kecuali kamu mendapat pahala darinya.” (Muttafaq ‘Alaih).

 
7. Skala Prioritas Pengeluaran (Perlu/Needs Vs Ingin/Wants)
 
Islam mengajarkan agar pengeluaran rumah tangga muslim lebih mengutamakan pembelian kebutuhan-kebutuhan pokok sehingga sesuai dengan tujuan syariat. Ada tiga jenis kebutuhan rumah tangga, yaitu:
 
a. Kebutuhan primer, yaitu nafkah-nafkah pokok bagi manusia yang diperkirakan dapat mewujudkan lima tujuan syariat (memelihara jiwa, akal, agama, keturunan dan kehormatan). Kebutuhan ini meliputi kebutuhan akan makan, minum, tempat tinggal, kesehatan, rasa aman, pengetahuan dan pernikahan.
 
b. Kebutuhan sekunder, yaitu kebutuhan untuk memudahkan hidup agar jauh dari kesulitan. Kebutuhan ini tidak perlu dipenuhi sebelum kebutuhan primer terpenuhi. Kebutuhan ini pun masih berhubungan dengan lima tujuan syariat.
 
c. Kebutuhan pelengkap. Yaitu kebutuhan yang dapat menambah kebaikan dan kesejahteraan dalam kehidupan manusia. Pemenuhan kebutuhan ini bergantung pada kebutuhan primer dan sekunder dan semuanya berkaitan dengan tujuan syariat.
 
d. Prioritas. Yaitu konsumsi dan pembelanjaan ini juga terkait dengan prioritas hak-hak yaitu hak terhadap diri (keluarga), Allah (agama), orang lain. Orang lain juga diukur menurut kedekatan nasab dan rahim, yang paling utama adalah orang tua kemudian saudara. (QS.Al-Anfal:75)

Aplikasi aturan-aturan di atas menuntut peran ibu rumah tangga untuk memperhitungkan pengeluaran rumah tangga secara bulanan berdasarkan tiga kebutuhan di atas, dengan tetap menyesuaikannya dengan pendapatan, sehingga rumah tangga muslim terhindar dari masalah-masalah perekonomian yang ditimbulkan atau sikap boros untuk hal yang bukan primer.
 
Islam mengharamkan pengeluaran yang berlebih-lebihan dan bermewah-mewahan karena dapat mengundang kerusakan dan kebinasaan. Allah berfirman: “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (suatu mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (QS. Al-Isra’:16).
 
Selain itu, bergaya hidup mewah merupakan salah satu sifat orang-orang yang kufur terhadap nikmat Allah. Firman-Nya: “Pemuka-pemuka yang kafir di antara kaumnya dan yang mendustakan akan menemui hari akhirat (kelak) dan yang telah Kami mewahkan mereka dalam kehidupan di dunia…” (QS. Al-Mu’minun:33).

Nabi juga sangat membenci gaya hidup mewah: “Makan, minum dan berpakaianlah sesukamu, sebab yang membuat kamu berbuat kesalahan itu dua perkara: bergaya hidup mewah dan berprasangka buruk.” (HR. Ibnu Umar dan Ibnu Abbas).
 
8. Bersikap Pertengahan dalam Pembelanjaan
 
Islam mengajarkan sikap pertengahan dalam segala hal termasuk dalam manajemen pembelanjaan, yaitu tidak berlebihan dan tidak pula kikir atau terlalu ketat. Sikap berlebihan adalah sikap hidup yang dapat merusak jiwa, harta dan masyarakat, sementara kikir adalah sikap hidup yang dapat menimbun, memonopoli dan menganggurkan harta. Kedua pola ekstrim dalam konsumsi itu memiliki mendekati sifat mubadzir.
 
Firman Allah: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqon :67)

“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (QS. Al-Isra:29)

“dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya.” (QS. Al-Isra’: 26-27)
 
Sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Allah akan memberikan rahmat kepada seseorang yang berusaha dari yang baik, membelanjakan dengan pertengahan dan dapat menyisihkan kelebihan untuk menjaga pada hari ia miskin dan membutuhkannya.” (HR. Ahmad).
 
“Tidak akan miskin orang yang bersikap pertengahan dalam pengeluaran.” (HR. Ahmad).
 
Jika pembelanjaan kita telah sesuai dengan aturan-aturan Islam, Allah akan memajukan usaha kita serta melipatgandakan pahala dan berkah-Nya. Bahkan Allah akan memberikan kelebihan hasil usaha agar kita dapat menyimpan dan menabungnya untuk menjaga datangnya hal-hal yang tidak terduga atau untuk menjaga kelangsungan hidup generasi yang akan datang.
 
Semoga bermanfaat!