Selasa, 19 September 2017

Tanya Jawab Fikih Muamalah No. 511

*🍀🌸Tanya Jawab Fikih Muamalah No. 511 🌸🍀*

*📲 Hukum Jual Beli Produk dengan Sistem Dropshipping/Reselling 🚛*

*👳🏼Oleh: Ustadz Dr. H. Oni Sahroni, M.A.*
▪Doktor Fikih Muqaran Univ. Al-Azhar Cairo/Tim Ahli Syaria Consulting Center
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

*🙋🏻‍♂Pertanyaan:*

_Assalamualaikum wr wb, ustadz_

_🔍Saya mau bertanya, bagaimana hukumnya melakukan Bisnis penjualan produk dengan sistem dropshipping/reselling?_

_Abdullah - 13/09/2017_




*🗣Jawaban*

*1⃣ Dropship, Reseller dan Dropshipper bisa dijelaskan sebagai berikut :*

*📝 Definisi Tentang Dropship, Reseller Dan Dropshipper*

*🛰 Bisnis Dropship* adalah sebuah sistem penjualan sebuah produk secara online dimana si penjual/ pengecer (dropshipper) tidak harus memiliki modal besar atau produk sendiri. Sistem dropship berbeda dengan sistem Reseller yang mengharuskan penjual/ pengecer untuk membeli produk kepada si supplier/ pemilik barang untuk stok, lalu kemudian dijual ke konsumen dengan mengambil keuntungan dari selisih harga barang. Sebagai penjual/ pengecer (dropshipper), agar berhasil memasarkan produk dari si supplier, maka harus melakukan proses pemasaran baik secara online maupun offline, tapi biasanya cara online lebih efektif bagi sebagian besar orang. Beberapa sarana atau media yang bisa kita gunakan untuk memasarkan produk secara online adalah melalui forum, toko online, blog pribadi, media sosial (Facebook, Twitter), lewat aplikasi messenger smartphone (BBM, Whatsapp, dll), dan media lainnya.

*👨🏻‍🌾 Reseller* adalah seorang pebisnis yang melakukan proses jual beli dengan langsung membeli barang dari grosir/supplier, disimpan sebagai stok, untuk kemudian dijual kembali kepada konsumen.

*👨🏻‍💻 Dropshipper* adalah pebisnis yang melakukan proses jual beli tanpa membeli barang dari grosir/supplier, yang dilakukan hanya promosi kepada orang yang menjadi prospeknya. Saat ada pemesanan dan pembelian, seorang dropshipper akan meneruskan order tersebut kepada grosir/supplier untuk dilakuan proses packing dan pengiriman langsung ke alamat konsumen.

*🛒 Proses usaha Yang Dilakukan Reseller Dan Dropshipper*

📈 Berikut skema dari proses transaksi sistem Reselling dan Dropshipping:

_*Skema Reselling:* https://kudo.co.id/blog/wp-content/uploads/2017/03/l.jpg_

👨🏽‍🌾 X adalah seorang reseller. Dia membeli barang kepada Z sebagai grosir/supplier produknya. Produk yang dibeli disimpan di tempat si-x dan di stok. Saat ada pembelian dari konsumen maka semua proses selanjutnya akan diselesaikan semua oleh si-x.

_*Skema Dropshopping:* http://myrujukan.com/wp-content/uploads/2014/11/proses-cara-menjual-produk-dropship.jpg_

👨🏼‍💻 A adalah seorang dropshipper. Dia menjadi seorang dropshipper dari grosir/supplier B. setelah terjadi kesepakatan antara si-A dan si-B, maka si-A mulai melakukan promosi sesuai cara yang efektif menurutnya. Saat ada pemesanan dan pembelian yang diterima oleh si-A, maka si-A meminta konsumen untuk membayar uang dengan jumlah yang telah ditentukan (tentunya dengan menentukan margin sebagai keuntungan). Setelah pembayaran diterima, maka order tersebut diteruskan kepada si-B, kemudian mentransfer uang yang ditentukan kepada si-B. setelah pembayaran diterima si-B, maka dia akan mengurus sisanya, mulai dari packing hingga pengiriman ke alamat konsumen.

📉 Skema dropshipping bisa dijelaskan sebagai berikut:

👨‍💻 Penjual/ pengecer (dropshipper) memilih beberapa produk dari supplier yang akan dijual,

📸 mengambil beberapa foto dari produk,

🎞 foto diupload ke media pemasaran disertai dengan keterangan singkat.

👨🏼‍💼 Bila terjadi pembelian, maka si konsumen akan memilih barang yang ingin dibeli dan mengirimkan uang sesuai dengan harga barang yang Anda tentukan.

💰 Si penjual/ pengecer (dropshipper)  kemudian melanjutkan proses pembayaran tersebut ke supplier barang dan memberikan informasi barang yang dibeli beserta data si pembeli.

🚚 Penyedia barang atau supplier akan mengemas barang yang dibeli dan mengirimkan barang kepada konsumen atas nama Anda sebagai pengirimnya.

*♻ Kelebihan serta kekurangan Reseller dan Dropship

per*

*✅ Kelebihan Reseller:* (1) Stok tersedia, hingga cara menjual lebih leluasa, misal: Cash on delivery (COD), membuka konter, membuka toko atau menjual langsung door to door. (2) Bisa menerima konsumen dekat maupun jauh. (3) Bisa menjelaskan produk dengan lebih pasti, karena melihat sendiri bentuk fisik, berat dan lain sebagainya. (4) Bisa mengontrol stok sendiri, sehingga tahu mana produk yang ready dan tidak. (5) Bisa mengambi margin lebih besar.

*❎ Kekurangan Reseller:* (1) Harus memiliki modal untuk membeli produk (2) Memiliki risiko produk mengendap di gudang karena tidak laku (3) Direpotkan dengan proses packing dan pengiriman

*✅ Kelebihan Dropshipper:* (1) Tidak memerlukan modal untuk memulainya (2) Tidak direpotkan dengan proses packing dan pengiriman (3) Risiko kerugian yang sangat minim

*❎ Kekurangan Dropshipper:* (1) Hanya bisa menjual dengan cara online. Karena untuk menjual secara langsung seorang dropshipper tidak memiliki stok produk. (2) Pemahaman tentang product knowledge masih terbatas, karena kebanyakan dropshipper tidak mengetahui bentuk fisik produk yang dijualnya. (3) Kontrol produk tidak bisa dilakukan sendiri, karena masih bergantung kepada grosir/supplier.

*2⃣ Bisnis penjualan dengan skema dropshipping/reselling itu bisa menggunakan alternatif  atau kontrak skema sesuai syariah berikut :*

*📡 Menggunakan skema Ijarah,* jika dropshipper/reseller itu tidak memiliki uang tunai untuk membeli produk, tetapi hanya mengandalkan jasa marketing, pemasaran dan mencari pembeli. Atas jasanya tersebut, dropshipper/reseller mendapatkan fee dari pemilik produk atau produsen. Skema ijarah tersebut itu sesuai dengan fatwa DSN-MUI No: 09/DSN-MUI/IV/2000 tentang Ijarah. Fee yang diterima oleh dropshipper/reseller ini bisa berbentuk nominal tertentu atau prosentase yang telah disepakati antara produsen dan dropshipper/reseller. Contoh untuk fee dalam bentuk  nominal adalah jika dropshipper/reseller bisa menjual satu produk baju misalnya, maka dia berhak mendapatkan fee sekian ribu. Sedangkan untuk fee dalam bentuk prosentase, jika dropshipper/reseller bisa menjual satu produk baju misalnya, maka dia berhak mendapatkan prosentase sekian persen dari harga jual. Sebagaimana hadis riwayat ‘Abd ar-Razzaq dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudri, Nabi s.a.w. bersabda:

*مَنِ اسْتَأْجَرَ أَجِيْرًا فَلْيُعْلِمْهُ أَجْرَهُ*

_“Barang siapa mempekerjakan pekerja, beritahukanlah upahnya.”_

*💵 Menggunakan skema bai’ salam,* jika dropshipper/reseller mendapatkan dana atau harga yang dibayar di muka yang diserahkan oleh pembeli. Dengan dana tersebut, dropshipper/reseller membeli produk sesuai pesanan pembeli. Dengan akad bai’ salam ini, dropshipper/reseller mendapatkan marjin dari transaksi jual beli yang dilakukannya dengan pembeli. Skema bai’ salam ini diperbolehkan sesuai dengan fatwa DSN-MUI No : 05/DSN-MUI/IV/2000 tentang jual beli salam. Sebagaimana hadis riwayat Bukhari dari Ibn 'Abbas, Nabi bersabda:

*من أَسْلَفَ في شَيْءٍ فَفِي كَيْلٍ مَعْلُومٍ وَوَزْنٍ مَعْلُومٍ إلى أَجَلٍ مَعْلُومٍ*

_"Barang siapa melakukan salaf (salam), hendaknya ia melakukan dengan takaran yang jelas dan timbangan yang jelas, untuk jangka waktu yang diketahui" (HR. Bukhari, Sahih al-Bukhari [Beirut: Dar al-Fikr, 1955], jilid 2, h. 36)._

*🤝 Menggunakan skema jual beli,* jika dropshipper/reseller memiliki dana untuk membeli langsung dari produsen.

*👬 Menggunakan akad samsarah,* jika ketentuan yang berlaku  barangnya terjual maka dropshipper/reseller berhak mendapatkan reward, dan jika tidak terjual maka dropshipper/reseller tidak mendapatkan reward. Hal ini berdasarkan Fatwa Dewan Syariah Nasional Fatwa Dewan Syariah Nasional NOMOR: 93/DSN-MUI/IV/2014 Tentang Keperantaraan (Wasathah) Dalam Bisnis Properti. Sebagaimana firman Allah Swt. :

*قَالُوا نَفْقِدُ صُوَاعَ الْمَلِكِ وَلِمَنْ جَاءَ بِهِ حِمْلُ بَعِيرٍ وَأَنَا بِهِ زَعِيمٌ*

_Penyeru-penyeru itu berkata: "Kami kehilangan piala raja, dan siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta, dan aku menjamin terhadapnya"._

*3⃣ Kesimpulan*

`Bi

snis penjualan produk dengan sistem dropshipping/reselling itu boleh, selama memenuhi ketentuan syarat dan rukun yang berlaku, khususnya, produk penjualannya itu halal dengan alternatif  atau kontrak skema sesuai syariah berikut :

♻ Menggunakan skema Ijarah, jika dropshipper/reseller itu tidak memiliki uang tunai untuk membeli produk, tetapi hanya mengandalkan jasa marketing, pemasaran dan mencari pembeli. Atas jasanya tersebut, dropshipper/reseller mendapatkan fee dari pemilik produk atau produsen

♻ Menggunakan skema bai’ salam, jika dropshipper/reseller mendapatkan dana atau harga yang dibayar di muka yang diserahkan oleh pembeli.

♻ Menggunakan skema jual beli, jika dropshipper/reseller memiliki dana untuk membeli langsung dari produsen.

♻ Menggunakan akad samsarah

Wallahu a'lam`

*📚Referensi:*

📓 Maqashid Bisnis & Keuangan Islam Sintesis Fikih dan Ekonomi (Dr. Oni Sahroni, M.A. & Ir. Adiwarman A. Karim, S.E., M.B.A., M.A.E.P)

📔  Fatwa DSN-MUI No: 09/DSN-MUI/IV/2000 tentang Ijarah, Fatwa DSN-MUI No : 05/DSN-MUI/IV/2000 tentang jual beli salam dan Fatwa DSN-MUI No: 93/DSN-MUI/IV/2014 Tentang Keperantaraan (Wasathah) Dalam Bisnis Properti.

🌐 http://grosirfrutablend.com/penjelasan-mengenai-reseller-dan-dropshipper

🌐 http://www.neraca.co.id/article/84039/mengenal-lebih-jauh-bisnis-dropship
__
💠Facebook : www.facebook.com/onisahronii
📷 Instagram : www.instagram.com/onisahronii
🐦 Twitter : www.twitter.com/onisahronii
📠 Telegram :
telegram.me/onisahronii

TIGA JALAN*

*TIGA JALAN*

Ada tiga jalan untuk memutar ekonomi, yang satu dilarang sedangkan dua lainnya dihalalkan, diberkahi, disuburkan dan dilipat gandakan. Ironinya dalam beberapa dasawarsa terakhir, justru jalan yang dilarang tersebut yang tumbuh pesat – sedangkan dua jalan yang lain terdominasi oleh yang pertama. Yang dilarang ini adalah jalan riba, sedangkan dua lainnya adalah jalan jual-beli dan sedekah. Untuk mengerem laju pertumbuhan riba, tidak ada jalan lain kecuali menguatkan jual-beli dan sedekah.

Dilarangnya riba sudah bukan lagi wacana, Al-Qur’an sangat tegas dalam hal ini bahkan Allah memberondongnya dengan memvonis haram (QS 2:275), mengancam akan memusnahkannya (QS 2:276),  bahkan Allah dan Rasulnya menyatakan perang terhadap riba ini (QS 2: 279).

 

Praktek-praktek yang dikategorikan riba di jaman modern ini juga sudah diinterpretasikan tanpa perdebatan lagi oleh Fatwa Dewan Syariah Nasional – MUI no 1 tahun 2004. Semua produk mengandung bunga perbankan konvensional, asuransi dan koperasi – masuk kategori ini berdasarkan fatwa tersebut.

 

Tetapi mengapa justru produk-produk ribawi ini terus merajalela ? ya karena dia ditumbuh-suburkan oleh ecosystem yang memang menunjangnya. Dari pihak eksekutif dan legislatif negeri ini menghadirkan berbagai produk yang menunjang tumbuh suburnya riba ini, misalnya ada undang-undang penjaminan simpanan, undang-undang BPJS dlsb.

 

Dari pihak masyarakat, baik pelaku usaha maupun sebagai konsumen – juga masih enggan untuk melakukan innovative disruption untuk keluar dari kungkungan riba ini. Bahkan karena riba itu begitu besar, tanpa kita sadari yang berusaha keras meninggalkannya-pun masih harus terus menerus menghirup debu-debu riba.

 

Jalan yang kedua – jalan yang jelas dihalalkan oleh Allah adalah jual-beli atau perdagangan (QS 2:275), jalan ini sekarang mulai menggeliat karena dengan tumbuh suburnya marketplace startup – yang mulai menggurita, masyarakat yang pandai berdagang secara umum diuntungkan.

 

Sebelum marakanya marketplace berbasis internet, Anda harus menyewa kios yang mahal di pusat-pusat perdagangan untuk bisa berjualan produk Anda. Akibatnya dunia perdagangan dikuasai oleh segelintir yang mampu saja.

 

Dengan menjamurnya berbagai marketplace tersebut, kini Anda idak lagi harus menyewa kios yang mahal untuk berjualan. Anda bisa berjualan apa saja, dari cendol sampai komponen teknologi tinggi yang sekarang lagi in – seperti komponen-komponen IoT (Internet of Things) di marketplace yang boleh dibilang gratis.

 

Tetapi pertumbuhan pasar ini saja, belum cukup untuk melawan riba. Ketika akses capital masih dikelola dengan system ribawi, ujungnya penguasa pasar tetap segelintir orang itu saja.

 

Kepemilikan marketplace-marketplace raksasa tetap privilege para pemilik modal raksasa yang notabene juga pengelola ribawi. Hukum rimba marketplace – yang nyaris tanpa ada entry barrier – mendorong persaingan yang tidak sehat antara para pengelola marketplace tersebut.

 

Mereka tidak segan-segan ‘membakar uang’ dalam jumlah yang tidak terbayangkan untuk meningkatkan pangsa pasarnya masing-masing. Mereka saling berusaha menjadi pemenang tunggal yang tidak menyisakan runner-up, sehingga di dunia marketplace ini berlaku istillah the winner take it all – pemenangnya mengambil semua !

 

Sementara masyarakat masih bisa menikmati persaingan antar raksasa ini, kita masih bisa naik ojek dan taksi yang tersubsidi oleh mereka, perdagangan yang ongkos kirimnya dibayari mereka dlsb. tetapi ketika sesuatu itu melanggar laranganNya, tidak terbayangkan apa akibat what next-nya.

 

Selain riba, ada larangan monopoli/oligopoli, kartel, ada larangan persaingan tidak sehat dlsb. Ingat bangsa Tsamud , kaumnya Nabi Saleh Alaihi Salam – apa kesalahan mereka  sehingga dihancuran oleh Allah ? karena ada sembilan orang (oligopoli) yang berbuat kerusakan di bumi (QS 27:48).

 

Ketika sembilan orang tersebut menguasai segala akses perekonomian – dan melarang unta Nabi Saleh untuk ikut dapat minum air, saat itulah Allah hancurkan bangsa itu. Bukankah perilaku pasar kita sekarang juga demikian ? yang besar ingin semakin besar dan berusaha menendang yang kecil untuk keluar dari pasar ?

 

Satu jalan lain yang harus kita dorong sekuat tenaga untuk tumbuh adalah jalan sedekah. Mengapa demikian ? banyak sekali kebutuhan kita yang tidak bisa secara optimal dipenuhi hanya dari jual beli komersial, harus jual-beli dengan Allah – itulah salah satu caranya yaitu dengan sedekah.

Urusan pendidikan, urusan mengatasi musibah/bencana, urusan kesehatan dlsb- tidak bisa diatasi dengan jual beli. Kalau untuk menerima layanan kesehatan Anda harus bayar, lantas bagaimana si miskin yang tidak bisa membayarnya. Bila untuk memperoleh pendidikan harus bayar, bagaimana is miskin meningkatkan taraf hidupnya ?

 

Apalagi untuk mengatasi musibah seperti bencana alam, musibah kemanusiaan seperti yang dialami oleh saudara-sudara kita di Rohingnya dlsb – tentu ini bukan medan jual beli antar manusia, inilah medan jual-beli dengan Allah atau dengan sedekah tadi.

 

Tetapi sedekah ini juga tidak akan optimal kalau aktivitas perdagangan kita terganggu, apa yang bisa kita sedekahkan ke saudara kita di Rohingnya misalnya – kalau kita sendiri tidak memiliki apa-apa, yang tidak memiliki tidak bisa memberi ! Maka perdagangan antar manusia, dan perdagangan dengan Allah – itu seperti dua sisi mata uang yang saling kait-mengkait.

 

Kita tidak bisa optimal bersedekah bila kita sendiri membutuhkan sedekah, tetapi kekayaan kita juga tidak akan ada artinya – bila sebagian harta tersebut tidak kita sedekahkan. Karena hanya ada tiga hal yang bisa kita bawa mati, yaitu Anak saleh yang mendoakan orang tuanya, ilmu yang bermanfaat dan sedekah jariyah.

 

Maka di point terakhir sedekah jariyah atau wakaf – inilah yang dimasa-masa lampau menjadi kekuatan ekonomi yang luar biasa, karena saat itu umat sadar bahwa harta terbaik mereka adalah harta yang bisa dibawa mati – harta yang disedekahkan atau diwakafkan.

 

Dengan wakaflah seluruh infrastruktur pendidikan terbaik yang bisa diakses oleh si miskin maupun si kaya – bisa di bangun. Dengan wakaf pula seharusnya rumah sakit dan layanan-layanan kesehatan, dan layanan social lainnya dibangun.

 

Yang kita saksikan sekarang sekolah yang baik menjadi sangat maal, rumah sakit yang baik juga hanya privilege of the few – ya karena sektor-sektor yang seharusnya dikelola dengan sedekah ini, kini diperdagangkan dengan dukungan modal ribawi.

 

Tetapi hanya mengidentifikasi masalah saja tanpa memberikan solusi juga menjadikan kita seperti penonton sepak bola yang hanya bisa berkomentar dan maido - bahasa jawa yang artinya mencela, dan Allah-pun marah ketika kita hanya bicara tanpa berbuat. Maka kinilah waktunya berbuat !

 

Di era ketika pertumbuhan ekonomi dunia didominasi oleh disruptive innovation, tidak ada hegemoni ekonomi yang bebas dari ini – disrupt or be disrupted, maka terhadap system ekonomi kaitalisme ribawi-pun waktunya untuk bisa di-disrupted.

 

Waktunya kita membenarkan janji Allah, bahwa riba dihancurkan dan sedekah disuburkanNya (QS 2:276), bahwa sedekah itu dilipat gandakan sampai 700 kali atau bahkan lebih (QS 2: 261), dan sedekah itu seperti berkebun  di tanah yang subur – bila ada hujan lebat hasilnya dua kali, bila yang ada hanya rintik hujan atau embunpun cukup (QS 2:265).

 

Janji Allah pasti benarnya, yang belum pasti adalah apakah kita berhak atas janji tersebut. Karena janji ini bersyarat, yaitu bila kita memulai dengan sesuatu. Bila kita tidak mulai menanam, apa yang disuburkanNya ? bila angka kita nol dilipat gandakan berapapun tetap juga nol !

 

Maka di momentum tahun baru Hijriyah pekan depan, waktu yang baik untuk memulai hal baru yang lebih baik. Waktunya berhijrah untuk mengunggulkan jalan jual-beli dan sedekah di atas jalan riba. Waktunya untuk mulai ‘menanam’ agar ada yang disuburkanNya, waktunya untuk menggoreskan amalan kita yang bernilai satu demi satu – agar ketika dilipatgandakan olehNya menjadi amalan yang berarti. InsyaAllah.












Minggu, 03 September 2017

Warung Lotek Bi Idjah'

*'Warung Lotek Bi Idjah'*

Untuk meliput ekonomi mikro, satu tim liputan sebuah stasiun televisi datang ke satu desa. Mereka menghampiri warung ‘Lotek Bi Idjah’. Setelah berbasa-basi, sang reporter mewawancarai Bi Idjah, dan camera mulai running.

Rep., “Bi Idjah, sudah lama buka warung lotek ini? Selain lotek, ada apa saja (dijual) di warung ini?”

Bi Idjah, ”Bibi mulai berjualan lotek sejak bapaknya anak-anak meninggal dunia diseruduk kerbau lima tahun lalu. Di sini mah gitu aja, kopi, goreng-gorengan, pisang goreng, ubi, tempe, tahu, bala-bala (bakwan), ...”

Rep., “Sudah lima tahun! Emang margin-nya cukup, sampe bisa bertahan lima tahun? Margin itu keuntungan, Bi.”
(Sang Reporter menerangkan dengan yakinnya)

Bi Idjah, “Begini. Bibi membangun platform bisnis ini karena di sini market-nya memang ada dan belum terpenetrasi oleh jaringan retail dari kota. Bisnis ini tidak semata-mata untuk meng-capture margin, tapi Bibi ingin platform ini sebagai anchor of business atau market maker di kampung ini. Bibi juga ingin warung ini jadi semacam marketplace of ideas bagi warga kampung ini.”

(Si Reporter kaget dengan penjelasan Bi Idjah)
Rep., “Maksud Bi Idjah?”

Bi Idjah, “Kan kalo mereka ngumpul, suka ngobrol, sharing informasi lah. Dengan informasi itu Bibi jadi tahu produk apa saja yang preferable ke depannya.”

(Si Reporter jadi minder)
Rep., “Ada yang suka ngutang, Bi?”

Bi Idjah, “Ada. Tapi, salah satu tujuan Bibi buka warung, bisa men-deliver confidence bagi warga kampung, para petani atau orang-orang yang lewat, mereka tetep bisa makan walau sedang tidak punya uang. Yang penting, mereka bisa survived bekerja, platform ini tetep bisa sustain.”

(Si Reporter mulai berpikir, jangan-jangan Bi Idjah temannya Sri Mulyani)
Rep., “Bagaimana kalau mereka gak bayar?”

Bi Idjah, “Kalo sampe akhir bulan mereka gak punya duit, biasanya mereka menawarkan skema debt to commodities swap. Bayar pake sayuran, singkong, ubi, pisang, atau apa saja...”

(Si Reporter mulai keder)
Rep., “Apakah akhir-akhir ini yang belanja ke warung Bi Idjah berkurang?”

Bi Idjah, “Kata Bibi mah, purchasing power masyarakat terus tumbuh, tidak melemah seperti yang dikatakan orang-orang di kota. Mungkin pola konsumsinya yang berubah. Katanya untuk Q2 2017 ini ekonomi China tumbuh 6,9%, harusnya itu pertanda baik buat usaha orang-orang di sini...”

(Si Reporter ngebathin, ‘Saya aja gak tahu, Q2 2017 ekonomi China tumbuh 6,9%’, dan mulai kehabisan pertanyaan)
Rep., “Bi Idjah kenal sama Sri Mulyani?”

Bi Idjah, “Pagawe Kacamatan...? Nya kenal atuh....!”

Rabu, 30 Agustus 2017

Berbeda Signifikan

❣ *Berbeda Signifikan* ❣

Oleh : Fitra Jaya Saleh (FJS)

*Sulit* dan *Kompleks* itu 2 hal yang berbeda, jangan kita keliru. Bisnis itu Kompleks tapi tidak sulit.

Sulit itu NEGATIF tapi kompleks itu BAIK.

Kompleks yang tidak berpola akan membuat Bisnis menjadi Sulit, untuk itulah kita membutuhkan Pola dan Standar untuk memudahkan kerja di internal organisasi bisnis.

Agar semua kompleksitas internal menjadi BAIK maka keniscayaan membuat standar pun menjadi wajib bagi bisnis owner, bagian mana saja yang di standarkan di internal?

Saya mencatat minimal ada 5 wilayah:

1. Standar tentang CARA melakukan yang BENAR (SOP).

2. Standar tentang HASIL yang di tentukan (KPI)

3. Standar tentang ALUR KERJA atau BISNIS PROSES (Flowchart).

4. Standar tentang Keuangan (Budget dan Laporan Keuangan)

5. Standar tentang Alur koordinasi (Struktur organisasi dan Job Description).

Berbicara tentang membuat standar, saya bisa membahasnya dalam 7 hari tak habis habis dari A sampai Z. Tapi kesempatan tulisan kali ini saya lebih ingin menuliskan tentang STANDAR ESKTERNAL yang harus dirasakan orang lain ketika berinteraksi dengan bisnis kita.

Bisnis yang bagus adalah yang mampu men-deleveri GREAT EKSPERIENSE kepada setiap orang yang berinteraksi dengan bisnis kita.

Apa yang membedakan kita secara signifikan dengan bisnis serupa lainnya? Pertanyaan ini harus di jawab oleh bisnis owner. Saya mempelajari tentang Coca cola company salah satu brand mahal yang bertahan berpuluh tahun, tidak banyak perusahaan dapat melakukannya.

Setidaknya ada 5 hal yang membedakan Coca cola dengan yang lain:

1. Formula minumannya berbeda. Gunakan blind tes pun kita akan dapat mudah membedakan mana Coca cola dan mana yang bukan.

2. Botol yang berkontur, bahkan bisa kita kenali meski tersisa serpihan pecahan kecil.

3. Huruf speserian yang unik pada Logo yang berbeda secara signifikan dengan yang lain.

4. Suhu PAS menurut Coca cola, untuk di minum  adalah 36 derajat Celcius. Ini entah ada riset atau tidak kepada 36 derajat, tapi Coca cola mencoba membuat perbedaan.

5. Harga 1 botol Coca cola akan selalu sama dengan harga 1Nikel, aturan ini telah diberlakukan sejak 1886 sampai sekarang. Hanya agar berbeda. Edaaaan.

Sekarang, apa beda yang signifikan bisnis kita? Saya mengembangkan tools "Golden Circle"" untuk membantu diri saya dan setiap orang untuk men design bisnisnya agar selalu berbeda Signifikan dibandingkan dengan bisnis lainnya.

Berbeda lah, atau bisnis kita akan mati.

Notes: Perjalanan ke Tasikmalaya dari solo by Lodaya. PT KAI termasuk perusahaan yang perubahannya sangat banyak dalam menghadapi persaingan yang berubah dan lebih kompetitif.

Salam Sukses.

Senin, 28 Agustus 2017

Peta persaingan para raksasa.

_Tulisan bagus dari Dewa Selling (Dewa Eka Prayoga)._

*Peta persaingan para raksasa...*

*Landscape eCommerce Indonesia*

Perkembangan paling mutahir adalah investasi miliaran US$ di Indonesia sehingga melahirkan 3 Unicorn, yaitu:

1. Tokopedia
2. Gojek
3. Traveloka.

Selain itu, terjadi pengelompokan bisnis:

1). *Tokopedia dan Lazada* (yang diinvest oleh Alibaba)

2). *Shopee, JD, Traveloka* (yang diinvest oleh Tencent)

3). *Blibli dan Tiket.com* (yang diinvest oleh GDP Capital milik Djarum Group)

Saham Alibaba di Tokopedia memang tergolong minoritas, namun di Lazada sudah mencapai 80%. Ini kemudian akan diintegrasikan dengan payment gateway (Alipay dan Doku) serta didukung kekuatan logistik China Smart yang mendominasi logistik Asia Tenggara melalui Singpost.

Strategi jangka panjang Jack Ma Strategi adalah menguasai infrastruktur di SEA utamanya Indonesia melalui kendaraan ecommerce.

*Alibaba* sudah membangun infrastruktur FBL (Fulfilled by *Lazada* – 60.000 SQM gudang di Cimanggis dan terus membangun di kota-kota lain dan memiliki infrastruktur delivery sendiri dengan LEX – Lazada Express .

Pesaing kuat *Alibaba* adalah Tencent (induk semang dari JD.co). Tencent masuk ke Indonesia melalui JD.id , *Gojek* dan *Traveloka.* Tencent pun ingin menguasai infrastuktur payment *Go-PAY* yang dipakai *Go-JEK,* yang saat ini sudah menjadi e-wallet terbesar di Indonesia, mengalahkan e-wallet yang dibuat bank dan telko. JD.ID sudah mulai membangun gudang distribution Center di Jakarta maupun di Kota-kota besar di Indonesia beserta Hub pengirimannya sendiri. Tencent makin kuat dengan investasi di *Shopee.co.id.*

Kedua pemain raksasa ini sudah mengubah peta e-commerce Indonesia.  Setahun terakhir ini *GMV-* nya di pasar Indonesia  meningkat pesat dengan membawa produk-produk murah China.

Petinggi *Shopee* menyatakan dalam kurun waktu dua tahun ke depan, pasar Indonesia hanya akan menjadi medan pertempuran dua raksasa ecommerce dr China: yaitu *Lazada (+ Tokopedia) dan Shopee.* 😱

Bagaimana dengan *Blibli?*

Akan bertahan tapi menjadi pemain ketiga yang paling banyak menguasai 20% pasar, yang 80% menjadi rebutan kedua grup di atas.

Peta akan berubah jika *Amazon* masuk ke Indonesia...

Bagimana Nasib pemain Lokal?

Hingga saat ini pemain ecommerce lokal belum bisa mengimbangi pertempuran dengan para pemain raksasa China tersebut.

Pemain lokal kalah dalam pengalaman, finansial, teknologi, bigdata, dan jaringan. Ada dua kemungkinan bagi pemain lokal yang tidak sekuat Blibli.com:

1). Diakuisisi atau
2). Ditutup karena kehabisan pendanaan di tengah jalan.

Persaingan di e-commerce ini juga berdampak pada bidang-bidang pendukung lanskapnya. Pemain di bidang logistics dan payment akan dikuasai mereka juga.

Yang mengkhawatirkan, supplier produk lokal akan tergantikan oleh produk-produk asing jika tak mampu mengambil peluang emas berkembangnya e-commerce ini.

Rumor yang beredar saat ini...

Petinggi *Lazada* berusaha melobi pemerintah untuk dapat melonggarkan aturan impor finish goods untuk dijual *via e-commerce* Indonesia.

Apa yang harus dilakukan?

Venture Capital Indonesia dan pelaku e-commerce lokal (paytren, belanjaqu.com dll) segera melakukan konsolidasi untuk mengimbangi kedua raksasa di atas, untuk melindungi pasar Indonesia dan mendorong produsen lokal bisa bersaing di pasar ecommerce, serta membawa produk-produk lokal masuk ke pasar global.

Bangun kawan-kawan... Bangun!

Asing terus menyerang dan berdatangan. Kalau kita cuma diam, matilah kita.

Kita mesti bersatu. Kita mesti saling support satu sama lain. Kita mesti berdaya di negeri sendiri...

Jangan sampai produk-produk lokal digilas habis dan gak diserap oleh pasar dengan baik, saking mendominasinya produk-produk luar di negeri ini

Bangunlah sinergi. Bertumbuhlah bersama.

Bersatu menguat, bersama berdaya

Joinlah di berbagai komunitas positif di Indonesia. Jalinlah sinergi dan tumbuhlah dalam kebersamaan

Joinlah di http://jagojualan.co.
Joinlah di http://www.belanjaqu.com
Joinlah di TDA.
Joinlah di IIBF.
Joinlah bersama Paytren dengan visi misi membeli ulang indonesia
Joinlah di HIPMO.
Joinlah di Yukbisnis.
Joinlah di kopdarsaudagar.com.
Joinlah di balitime@mybigmallshop.com

Sukses untuk kita semua. Aamiin

Semoga Allah ridho.

®Dewa Eka Prayoga

Kamis, 10 Agustus 2017

PREPARE YOURSELF FOR THE *VUCA*

PREPARE YOURSELF FOR THE *VUCA*

WORLD

(Mempersiapkan diri menghadapi dunia yang penuh ketidakpastian)

Saat ini , pada saat anda bekerja di industri apapun, dan menekuni profesi apapun , apakah itu sales, marketing, supply chain, finance atau HR, anda pasti merasakan . Dunia business saat ini sedang dilanda ketidakpastian. Tidak ada satu perusahaan pun yang terjamin aman dari gelombang VUCA yang saat ini sedang melanda dunia.
Perusahaan-perusahaan besar seperti Kodak, Nokia dan lain-lain menunjukkan bahwa "menjadi perusahaan kuat" bukan jaminan bahwa perusahaan anda akan selalu aman dan berjaya.

Dunia berubah, ekonomi berubah, politik berubah, bisnis berubah, kompetisi  berubah, perilaku konsumen  berubah. Dan kalau anda atau perusahaan anda tidak berubah, bersiap siaplah bahwa anda akan hilang ditelan jaman. Padahal masih  banyak yang perusahaan atau individu yang sombong atau arogan dan terlalu percaya diri.
Merasa mempunyai strength dan competitive advantage yang kuat.
Dan ternyata strength di masa lalu sering kali tidak relevant di masa depan. Dan justru strength di masa lalu sering kali membuat kita complacent dan lupa diri, lupa untuk being humble and keep learning. Often, your strength will kill you.

Hal ini sudah terjadi pada beberapa insinyur perminyakan yang sekarang mulai menganggur, kehilangan pekerjaan, meratapi nasib dan tiap hari menunggu kapan harga minyak naik.
Hal ini terjadi pada beberapa profesi yang berjaya di masa lalu, dan sekarang terlanda krisis. Tetapi hal ini juga berlaku bagi beberapa perusahaan yang merasa jagoan di masa lalu, tetapi karena terlalu arogant, sekarang mulai tersesak kompetisi.
Bayangkan bahwa sebuah aplikasi online yang dibuat oleh 3 anak muda ternyata berpeluang untuk mengganggu bisnis anda, apakah anda adalah perusahaan taxi besar, perusahaan retail supermarket besar, atau apapun bisnis anda. Saat inilah anda menyadari betapa rapuhnya perusahaan anda atau kompetensi anda.

Pertanyaan yang sekarang paling popular adalah "What if , whatever we knew, is wrong"
(Bagaimana seandainya saja, apapun yang kita ketahui ternyata salah).
Dan pertanyaan itu ternyata sama sekali tidak exagerate (melebih-lebihkan).
Better safe than sorry. Lebih baik waspada daripada celaka!

Jadi, bagaimana dong? Tunggu dulu, pertama kita harus mengerti ketidakpastian apa yang kita hadapi. Jadi kita bahas dulu, apa sih dunia yang "VUCA" . Lets discuss ...

VUCA berasal dari kata "Vulnerable, Uncertainty, Complexity and Ambiguity"
(Rapuh, tidak pasti, rumit dan rancu!)

Kita bahas satu persatu yuk ...

1. Volatile (Rapuh)

Tidak ada lagi bisnis yang stabil. Kompetisi makin kencang, ekonomi makin tidak pasti. Kalau dulu business growth anda flat, atau naik terus perlahan lahan. Bersiaplah bahwa sekarang business growth anda akan menjadi roller coaster. Siap siap, jaga stamina, jaga jantung. Karena kalau tahun ini bisnis anda naik dan growth  ya positive, bisa saja tahun depan growth nya negative dan menukik tajam. Kemudian kalau anda bekerja keras dan berinovasi mungkin tahun depannya naik lagi. Persis sama seperti roller coaster!

2. Uncertainty (Ketidakpastian)

Tidak ada lagi yang pasti. Pada saat sebuah perusahaan taxi di China berinvestasi banyak-banyak membeli taxi merecruit driver dan mentraininh mereka dengan   biaya besar, ternyata sebuah aplikasi online menghancurkan growth mereka, dan membuat mereka harus mengaca diri.
Ketika sebuah retail supermarket besar di Taiwan berinvestasi besar besaran menambah toko, menambah gudang dan menambah karyawan, ternyata bisnis mereka diganggu oleh maraknya toko-toko online.
Pada saat sebuah perusahaan consulting services  perminyakan berinvestasi ternyata beberapa tahun kemudian harga minyak turun drastis, dan mereka sepi order.
You dont know the future anymore, you cannot predict it, nothing is certain. Get ready!

3. Complexity (rumit)

Business anda semakin lama semakin rumit. Dulu kita hanya memikirkan profit. Kemudian nambah harus memikirkan customer. Kemudian nambah lagi , you need to hire, motivate and develop your employee. Sekarang anda harus juga memikirkan CSR, stakeholder engagemeng, kontribusi perusahaan anda pada pelestarian lingkungan dan pengembangan masyarakat. Belum situasi hukum (local dan internasional) yang makin tidak menentu. Bisnis tidak lagi semudah beberapa belas tahun yang lalu di mana anda menciptkan product, memproduksi dan menjualnya, dan mendapatkan keuntungan.
Wake up and welcome to the real world. Now it is much more complicated than that.

4. Ambiguity

Semuanya makin rancu. Kita gak jelas lagi dengan aturan bisnis kita karena peraturan yang terus menerus berganti.
Pada saat kita pikir kita sudah memenuhi semua yang diatur dalam regulasi, ternyata ada saja yang interprestasinya berbeda.
Pada saat kita sudah memasang strategy terhadap competitor kita, ternyata datang pemain baru yang masuk. Bahkan perusahaan yang tadinya kita pikir tidak berkompetisi dengan kita ternyata menjadi alasan customer kita meninggalkan kita.

Pemilik bioskop bersaing dengan pengelola TV kabel. Pengelola bus malam bersaing dengan pengelola kereta api. Dan perusahaan kereta api bersaing dengan pesawat terbang.
Taxi bersaing dengan aplikasi online.
Supermarket dan pengusaha retail bersai ng dengan perusahaan online. Dan makin banyak lagi yang akan terjadi.

Terus apa yang harus kita lakukan?
Ternyata kita bisa menghadapi VUCA dengan menjadi "VUCA".
Tapi kali ini VUCA yang harus kita lakukan singkatannya lain. Singkatan yang baru, yang menggambarkan apa yang harus kita lakukan adalah
- Visionary Leader
- Unleash the (hidden) potentials
- Change agent
- Agility builder

Kita bahas satu persatu ya ....

1. Visionary Leader

Seorang leader mem-balance antara short tern and long-term success. Anda harus tetap consistent untuk deliver business success saat ini, sambil terus menerus mengembangkan visi untuk masa depan. Visi masa depan adalah pandangan tentang ..
* Why will they continue to exist in the future
* How they will contribute to the society in the future
* Why the customer will continue to choose them
* How they will build and improve their emotional bonding with customers

Dengan cara itu dulu Garmin sukses mengembangkan alat alat navigasi GPS, tetapi tetap berfokus pada masa depan. Sehingga pada saat GPS bisa diunduh gratis dengan aplikasi online, mereka sudah siap dengan product berikutnya: alat-alat gadget untuk anak anak muda yang fitness.

You see, one way or another your product will decline, you cannot avoid that. What you can do is prepare the organization (and yourself) so you are ready and come up with new competitive advantage.
This is the job of CEO, HR and all the leaders in the organization. Are you ready to take the challenge?

2. Unleash the (hidden) potentials

Kita ini sebenarnya punya dua tangan. Tetapi dari kecil kita sering kali menggunakan hanya satu tangan, biasanya tangan kanan. Jadi kita jarang sekali menggunakan tangan kiri. Akibatnya kita hanya menggunakan 50 persen dari potensi kita. Dan mungkin banyak sekali potensi (tersembunyi) yang dimiliki tangan kiri. Dan mungkin sampai sekarang anda tidak menggunakan dan menyia-nyiakan potensi itu.

Sama dengan analogy itu. Kita pasti punya banyak potensi dalam diri kita (atau di perusahaan kita). Sayangnya perusahaan kita (atau kita sendiri) terlalu sibuk focus pada apa yang harus kita kerjakan untuk mencapai business objective quarter ini. Akibatnya kita suka tidak menyadari potensi kita sendiri. Padahal mungkin saja kita memiliki potensi di dalam bidang yang lain.

Selain jago membuat alat navigasi, ternyata Garmin mampu membuat Gadget fitness.
Selain jago membuat film photography ternyata Fuji juga mampu membuat ramuan kosmetik.
Saya sendiri dulunya adalah insinyur komputer yang ternyata mempunyai potensi dalam bidang Human Resources.
Apa yang harus anda lakukan?
* Find your hidden potential
* Explore new opportunities from your hidden potentials
* Develop new competitive advantage based on your potential
* Go on and attack the matket

- Change agent

Kalau anda (atau perusahaan anda) sudah terbiasa untuk hanya berfokus pada delivering current objective, akan sulit sekali untuk tiba-tiba pindah "gigi persneling" dan harus balancing masa depan juga. You  need to have a good change management process in place. And again, CEO, HR and every single business leader need to play the role as change agent.
Ingat, it is about change. anda harus mengubah fokus orang orang dari masa sekarang ke masa depan.
What you need to do?
* Set and 6 the Objectives
* Visualize the success (How the success would looks like?)
* Motivate your team
* Implement the change with discipline
* Reward the supporters and communicate to the resisters

- Agility builder

Mempersiapkan anda ke VUCA world juga berarti mempelajari hal hal yang "baru". Learning "new" things. Padahal mungkin beberapa di antara kita sudah lama tidak belajar lagi. Banyak karyawan yang waktu saya tanya kapan mereka terakhir kali belajar, jawabannya adalah waktu mereka masih kuliah. Which is like belasan tahun yang lalu.
Otak anda perlu  memiliki learning agility, kemampuan mempelajari hal hal baru, the ability to learn new things.
How to do ...
- Learn new things everytime (bidang baru, olahraga baru, bahasa asing baru, hobby baru ... or anything, as long as you learn new things)

- Read , observe, learn and analyze the trend that is happening in the world today
- Hang out with agile and open-mind people
- But most importantly, being "open mind", understanding that we may not be the best in everything. There is a risk ahead. And our competences may not be relevant in the future. Hence, keep learning is the key to your future success.

Jadi ingat, untuk mempersiapkan diri menghadapi dunia yang VUCA (Vulnerable, Uncertainty, Complexity and Ambiguity), anda juga harus menjadi "VUCA" (Visionary Leader, Unleash the hidden potengial, Change Agent and Agility  builder)

Salam Hangat
Pambudi Sunarsihanto

#Nasehattukdirisaya

Senin, 07 Agustus 2017

investasi 1 jam sehari

🛑 investasi 1 jam sehari 🛑

Oleh : Kiyai Coach FJS

Semua hal yang unknown (tidak diketahui) bagi pebisnis, adalah masalah. Semakin banyak masalah dalam bisnis, jika semakin banyak yang Unknown bagi pebisnis. Unknown bagi pebisnis adalah resiko yang dapat membuat bisnis menjadi stagnan,hingga kematian bisnis.

Semakin luas wilayah unknown pengusaha, maka berbanding lurus akan semakin beresiko bisnis yang di jalaninya. Semakin rentan terhadap kerugian atau bahkan kebangkrutan.

Maka pekerjaan paling penting bagi seorang pemilik bisnis adalah memperkecil wilayah unknown nya, mempersempit ketidaktahuannya tentang bisnis, dengan begitu otomatis akan semakin banyak masalah yang bisa di selesaikan karena pengusaha memiliki kapasitas dan pengetahuan tentang bisnis. Semakin sedikit wilayah unknown, semakin kecil pula resiko bisnis yang dihadapi.

Mungkin inilah alasan bagi beberapa investor, sebelum 'menaruh' uang mereka kedalam sebua bisnis, mereka mencari tahu tentang kapasitas pemilik bisnisnya, kemampuan menyelesaikan masalah atau leadership pemilik bisnisnya, atau seberapa besar wilayah unknown pemilik bisnisnya. Karena ini berhubungan dengan resiko bisnis.

Dengan memahami ini, maka kita sebagai pemilik bisnis mestinya menjadi sadar bahwa job desc utama kita sebagai pebisnis adalah menghilangkan Unknown things kita, dengan meningkatkan kapasitas dan leadership kita. Ada hubungan atau korelasi positif yang sangat erat diantara leadership pemilik bisnis dengan ukuran bisnis.

Jika leaderahip pemilik bisnis ada di angka 10 ( dalam skala 100), maka ukuran bisnis akan ada di angka 6 atau 7, dibawah leadership. Cara untuk menaikkan ukuran bisnis tidak ada cara lain adalah dengan menaikkan terlebih dahulu leadership anda, jika mau ukuran bisnis anda menjadi 10, maka sebelumnya naikkan dulu leadership anda menjadi 20.

Ukuran bisnis, omset, laba dan lainnya hanyalah efek dari leadership pemimpin bisnis. Anda bisa menaikkan tingkat leaderahip dengan meningkatkan kemampuan anda, atau dapat juga dengan mengganti diri anda sebagai pemimpin bisnis dengan orang lain yang lebih baik leadershipnya. Itu tergantung anda.

Jika anda memilih menaikkan leadership anda, maka hanya ada satu cara untuk melakukannya,yaitu dengan belajar. Anda bisa Belajar bisa sendiri dengan membaca buku, coba satu persatu teknik, mengikuti seminar dll dan bisa juga menaikkan leadership anda dengan dibantu oleh mentor,kedua cara ini ada kelebihan dan kekurangannya.

Sedikit cerita tentang perusahan yang saya pimpin, Raihan. Karena kita memahami benar akan pentingnya leaderahip didalam bisnis, maka salah satu value perusahaan adalah 'selalu belajar'. Dalam praktiknya setiap hari di jam 11-12 semua karyawan dan pimpinan berhenti melakukan aktivitas kerja dan melakukan aktivitas belajar.

Dari level manager hingga bagian umum, pada 1 jam itu semua belajar, sebagian membaca buku, sebagian menonton youtube, sebagian mendengar ceramah dan sebagian lainnya berdiakusi. Semuanya memiliki topik yang berbeda beda yang di tentukan setiap sepekan sekali. Masing2 bagian memilih topik belajarnya dan disetujui oleh manager.

Hari jumat adalah hari diskusi, 80% waktu di hari jumat digunakan perusahaan untuk diskusi tentang masing2 topik yang di pelajari, setiap orang membuat catatan dan menyampaikan hasil belajarnya pada hari jumat, dan yang lainnya menyimak. Tentu saja, Semua topik yang di pilih adalah topik2 yang berhubungan dengan pekerjaan mereka. Topik marketing, topik keuangan, topik operasional dan lainnya.

Budaya ini yang mungkin menjadi alasan cepatnya pertumbuhan bisnis Raihan yang dapat mencapai 10-20% pertumbuhan setiap bulan dilihat dari ukuran perusahaan,jumlah karyawan dan jumlah omset.

Investasi dalam waktu untuk belajar dan mengembangkan kapasitas akan selalu dilakukan untuk menghilangkan Unknown setiap team dalam perusahaan terhadap pekerjaannya masing2.

Kami meyakini, pada akhirnya manusialah yang mengambil peran paling besar dalam pertumbuhan bisnis, bukan tentang teknologi ataupun mesin.

Salam Sukses.